TAKZIRAN BU DURROH
“Ruroh...”
“ngelapi
piring tiga puluh,” ujar Ibuk sembari melirikku dari balik kacamatanya.
Aku
bergegas bangkit dan beranjak untuk mengambil piring. Sudah jelas itu tadi
perintah untuk membersihkan piring. Bukan dari makanan, sayangnya. Melainkan
dari debu-debu yang sebenarnya tak
seberapa banyak. Aku tahu perintah tadi bukanlah tanpa alasan, tetapi hukuman.
Ya, kuakui kalau kemarin aku bolos –untuk yang ketiga kalinya- dan Ibuk tidak
pernah marah. Aku hanya disuruh bersih-bersih. Untuk pembolosan pertama, aku didhawuhi
membersihkan jendela. Namun untuk yang kedua dan ketiga, aku dapat jatah
mengelap piring. Benar-benar menyebalkan. Aku merasa seperti babu, padahal
disini statusku, kan, santri!
Sebenarnya
aku bukan tukang bolos. Hanya saja, akhir-akhir ini memang aku merasa
kecapekan. Minggu depan aku ikut turnamen Pagar Nusa untuk pertama kalinya di
aliyah –aku sudah sangat sering ikut waktu tsanawiyah dulu-. Tentu, aku
berlatih hampir setiap hari sepulang sekolah. Aku tak mau sembarangan, karena
memang hanya di bidang inilah aku merasa memiliki jati diri, dan bisa
memperoleh piagam. Aku tahu bahwa Ibuk pasti akan ‘duko’ kalau sampai
tahu aku ikut turnamen. itulah kenapa aku bolos dua hari kemarin. Aku lebih
memilih mengelap piring daripada Ibuk tahu badanku yang waktu itu lebam parah.
Aku tak mau diinterogasi Ibuk dan akhirnya dikeluarkan dari madrasah huffadz
lil banat ini.
***
Bu
Durroh –yang biasa dipanggil ‘Ibuk’ oleh santri-santrinya- menatapaku sekilas
dan mata kami sempat bertemu. Aku merasa melihat senyumnya samar-samar
kemudian. Duh! Aku jadi makin deg-degan saja. Kemarin aku bolos -lagi! Dan itu
berarti untuk yang keempat kali. Otakku terasa berputar-putar menebak apa
‘piket’ku kali ini. Hatiku terus berdoa dengan mulut komat-kamit agar entah
bagaimana, tiba-tiba saja Ibuk lupa kalau kemarin aku tak menampakkan batang
hidungku yang lebar ini.
“Ruroh,”
Ibuku
memanggilku sambil mengedikkan kepalanya. Deg! Namaku dipanggil! Oh, tidak.
Matilah aku setelah ini. Namun ketika aku maju Ibuk diam saja. Aku sedikit
merasa bingung.
“Ayo lhek diwaca tahfidzmu dina iki,”
Waa,
doaku terkabul! Lega benar aku. Aku pun menyetorkan hafalanku dengan tenang.
Tapi juga sedikit was-was barangkali hukumanku diberikan setelah ini. Namun, rupanya aku terlalu
su’udzon. Selesai aku tahfidz, Ibuk tampak tidak hirau. Kemudian beliau
berdiri dan memandang sekeliling ruangan itu.
“Assalamu’alaikum
warohmatullahi wabarokatuh,” Ibuk mengucap salam dan
seketika musholla bercat krem itu menjadi hening. “aku mau cerita tentang
ayahku, Mbah Anwar. Le setor uwis sik.”
“Mbah
Anwar itu orang ‘alim, ‘abid, dan dekat sama Allah. Mbah Anwar itu tidak biasa
untuk menganggur. Beliau selalu menyibukkan diri untuk berdzikir.” Ibuk memberi
jeda sebentar, kemudian melanjutkan.
“Dzikir
ki ora kok mesti ndekem terus
wiridan. Dzikire mbah Anwar itu terus
lewat bibir beliau yang tidak pernah berhenti menyebut asma Allah. Mbah Anwar
itu ingin bermanfaat bagi orang banyak. dzikir itu wajib, tapi khoirunnaasi anfa’uhum lin naasi, jadi beliau selalu
sibuk mengajar, bercengkrama dengan para santri, dan bahkan bersih-bersih.
Seperti menyapu kalau dirasa perlu, mengambil sampah yang tercecer di jalan.”
“Bahkan,
ayahku itu di kamarnya ada banyak piring. Kalau dirasa nganggur, beliau berdzikir
sambil ngelapi piring.”
“Cah,
salah satu tanda cinta itu ittiba’, mengikuti apa-apa yang dilakukan
orang yang dicintai. Nah, kalian ini santri Mbah Anwar. Cinta ndak sama
kyaimu?”
Ditanyai
begitu serentak kami semua membuat koor ‘ya’ dengan kompak.
“Aku
itu niatnya nakzir kalian itu bukan nyari untung, tapi juga biar kalian bisa ittiba’
Mbah Anwar. Ngisik-isik kaca, nyapu,
ngelapi piring, itu semua lak yo
bersih-bersih, to?” tanpa sadar, aku dan teman-teman di sebelahku
mengangguk pelan.
“Lha
ya itu biar kalian punya kegiatan yang sama dengan Mbah Anwar, ittiba’ sama
Mbah Anwar. Nanti kan saya kepinginnya kalian juga bisa jadi ‘alim dan ‘abid
kayak Mbah Anwar. Kalau nggak disuruh, nggak mungkin, kan, kalian
punya inisiatif ngelap piring? Sekalian juga biar kalian itu jera. Maunya saya
kalian ngajinya itu lancar dan hafalannya bagus bisa disemak, makanya kalau
bolos saya beri takziran. Tapi kok ya ada yang ditakzir nggak jera-jera,”
Kemudian
Ibuk melirik ke arahku, dan tersenyum.
***
LINA J. MA’RUF
Santri kelas XI MA Ali Maksum, Ponpes Krapyak, Yogyakarta
Jalan K.H. Ali Maksum PO. Box 1192
Krapyak, Yogyakarta
Indonesia 55011
Krapyak, Yogyakarta
Indonesia 55011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar