Kamis, 25 Desember 2014

cerpen Takziran Bu Durroh



TAKZIRAN BU DURROH

“Ruroh...”

“ngelapi piring tiga puluh,” ujar Ibuk sembari melirikku dari balik kacamatanya.

Aku bergegas bangkit dan beranjak untuk mengambil piring. Sudah jelas itu tadi perintah untuk membersihkan piring. Bukan dari makanan, sayangnya. Melainkan dari debu-debu  yang sebenarnya tak seberapa banyak. Aku tahu perintah tadi bukanlah tanpa alasan, tetapi hukuman. Ya, kuakui kalau kemarin aku bolos –untuk yang ketiga kalinya- dan Ibuk tidak pernah marah. Aku hanya disuruh bersih-bersih. Untuk pembolosan pertama, aku didhawuhi membersihkan jendela. Namun untuk yang kedua dan ketiga, aku dapat jatah mengelap piring. Benar-benar menyebalkan. Aku merasa seperti babu, padahal disini statusku, kan, santri!

Sebenarnya aku bukan tukang bolos. Hanya saja, akhir-akhir ini memang aku merasa kecapekan. Minggu depan aku ikut turnamen Pagar Nusa untuk pertama kalinya di aliyah –aku sudah sangat sering ikut waktu tsanawiyah dulu-. Tentu, aku berlatih hampir setiap hari sepulang sekolah. Aku tak mau sembarangan, karena memang hanya di bidang inilah aku merasa memiliki jati diri, dan bisa memperoleh piagam. Aku tahu bahwa Ibuk pasti akan ‘duko’ kalau sampai tahu aku ikut turnamen. itulah kenapa aku bolos dua hari kemarin. Aku lebih memilih mengelap piring daripada Ibuk tahu badanku yang waktu itu lebam parah. Aku tak mau diinterogasi Ibuk dan akhirnya dikeluarkan dari madrasah huffadz lil banat ini.
***

Bu Durroh –yang biasa dipanggil ‘Ibuk’ oleh santri-santrinya- menatapaku sekilas dan mata kami sempat bertemu. Aku merasa melihat senyumnya samar-samar kemudian. Duh! Aku jadi makin deg-degan saja. Kemarin aku bolos -lagi! Dan itu berarti untuk yang keempat kali. Otakku terasa berputar-putar menebak apa ‘piket’ku kali ini. Hatiku terus berdoa dengan mulut komat-kamit agar entah bagaimana, tiba-tiba saja Ibuk lupa kalau kemarin aku tak menampakkan batang hidungku yang lebar ini.

“Ruroh,”

Ibuku memanggilku sambil mengedikkan kepalanya. Deg! Namaku dipanggil! Oh, tidak. Matilah aku setelah ini. Namun ketika aku maju Ibuk diam saja. Aku sedikit merasa bingung.

“Ayo lhek diwaca tahfidzmu dina iki,”

Waa, doaku terkabul! Lega benar aku. Aku pun menyetorkan hafalanku dengan tenang. Tapi juga sedikit was-was barangkali hukumanku diberikan setelah ini. Namun, rupanya aku terlalu su’udzon. Selesai aku tahfidz, Ibuk tampak tidak hirau. Kemudian beliau berdiri dan memandang sekeliling ruangan itu.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,” Ibuk mengucap salam dan seketika musholla bercat krem itu menjadi hening. “aku mau cerita tentang ayahku, Mbah Anwar. Le setor uwis sik.

“Mbah Anwar itu orang ‘alim, ‘abid, dan dekat sama Allah. Mbah Anwar itu tidak biasa untuk menganggur. Beliau selalu menyibukkan diri untuk berdzikir.” Ibuk memberi jeda sebentar, kemudian melanjutkan.

“Dzikir ki ora kok mesti ndekem terus wiridan. Dzikire mbah Anwar itu terus lewat bibir beliau yang tidak pernah berhenti menyebut asma Allah. Mbah Anwar itu ingin bermanfaat bagi orang banyak. dzikir itu wajib, tapi khoirunnaasi  anfa’uhum lin naasi, jadi beliau selalu sibuk mengajar, bercengkrama dengan para santri, dan bahkan bersih-bersih. Seperti menyapu kalau dirasa perlu, mengambil sampah yang tercecer di jalan.”

“Bahkan, ayahku itu di kamarnya ada banyak piring. Kalau dirasa nganggur, beliau berdzikir sambil ngelapi piring.”

“Cah, salah satu tanda cinta itu ittiba’, mengikuti apa-apa yang dilakukan orang yang dicintai. Nah, kalian ini santri Mbah Anwar. Cinta ndak sama kyaimu?”

Ditanyai begitu serentak kami semua membuat koor ‘ya’ dengan kompak.

“Aku itu niatnya nakzir kalian itu bukan nyari untung, tapi juga biar kalian bisa ittiba’ Mbah Anwar. Ngisik-isik kaca, nyapu, ngelapi piring, itu semua  lak yo bersih-bersih, to?” tanpa sadar, aku dan teman-teman di sebelahku mengangguk pelan.

“Lha ya itu biar kalian punya kegiatan yang sama dengan Mbah Anwar, ittiba’ sama Mbah Anwar. Nanti kan saya kepinginnya kalian juga bisa jadi ‘alim dan ‘abid kayak Mbah Anwar. Kalau nggak disuruh, nggak mungkin, kan, kalian punya inisiatif ngelap piring? Sekalian juga biar kalian itu jera. Maunya saya kalian ngajinya itu lancar dan hafalannya bagus bisa disemak, makanya kalau bolos saya beri takziran. Tapi kok ya ada yang ditakzir nggak jera-jera,”

Kemudian Ibuk melirik ke arahku, dan tersenyum.

***



LINA J. MA’RUF
Santri kelas XI MA Ali Maksum, Ponpes Krapyak, Yogyakarta
Komunitas Sastra Menjangan, Krapyak
Jalan K.H. Ali Maksum PO. Box 1192
Krapyak, Yogyakarta
Indonesia 55011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar