Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2017

cerpen Di Balik Jendela

170215. Kdj202.
DI BALIK JENDELA

“Astaghfirullah,”
Cepat-cepat kualihkan pandanganku sambil mengurut dada. Maksiat, pikirku. Jantungku masih berderap cepat dan mataku terpejam rapat. Namun tetap saja. Meski dalam mata tertutup seperti itu, bayangan sosok bersorban tadi masih jelas terpampang di otakku. Kuhela napas panjang, kubuka lagi kelopak mataku. Segera kufokuskan kembali pikiranku pada lemabaran mushaf yang ada di depanku
***
Aku sedang membaca buku geografiku dengan segan ketika tiba-tiba Ulfah duduk di sebelahku dan sebungkus cokelat kesukaanku secara ajaib telah berbaring di pangkuanku. Aku menatap Ulfah tak berkedip. “Itu syukuran aku menang speech kemarin,” katanya sambil tersenyum. Aku ikut sumringah. “Makasih, Ul,” seruku. Aku melanjutkan membaca buku geografi ditemani Ulfah yang berceloteh tentang seorang artis, lalu seorang Gus Kafa (putera kyaiku yang nyantri di Jombang) yang dijodohkan dengan ning siapa, dan entah apa lagi aku tak paham.
‘Kriiing...’
Bel berbunyi. Istirahat telah usai. Pelajaran geografi akan segera dimulai. Tubuhku langsung lunglai. Hari ini ulangan dan aku belajarku tadi hanya sebentar. Itupun diiringi dengan nyanyian Ulfah. Ah...
***
Aku ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Aku mencatat setiap ayat Quran dan hadist yang diselipkan bapak atau ibu guru dalam pelajarannya (karena dilakukan di pesantren, kegiatan ini berubah menjadi mencatat setiap perkataan guru) dan, yang lebih susah lagi, mencoba menjalankan isi ayat dan hadist tersebut. Aku ingin mejadi anak alim. Tetapi sejak bertemu dengannya, imanku mulai goyah.
Aku masih ingat pertemuan dengannya pertama kali; saat mangantri di kasir supermarket depan pondok. Aku berdiri di belakangnya, dekat, dekat sekali. Aku iseng membaca bubuhan spidol di ujung belakang surbannya; F A B I. Unik, ya? Aku tak melihat wajahnya sampai dia keluar dari supermarket. Kami hanya sempat bersitatap sebentar karena lelaki itu cepat-cepat membuang muka. Dan sungguh, itu pertama kali aku merasa terpana.
***
Huf , susah benar berada di antara orang yang sedang ghibah. Mau ikutan, dosa. Mau menghindar pergi, eh, malah hasrat hati ingin mendengarkann. Kelasku sedang jam kosong dan kelasku sudah sebelas dua belas bisingnya dengan pasar. Iseng aku mendekat ke jendela. Dan aku melihatnya.
Berpeci putih, koko putih, surban putih, sarung kotak-kotak cokelat. Aku bingung harus berucap subhanallah atau astaghfirullah (atau, ehm, alhamdulillah?) begitu melihatnya. Mukanya bersih memancarkan aura yang menyenangkan dan berwibawa. Langkahnya tegap namun tetap agak menunduk. Mukanya datar tapi sorot mata teduhnya nampak sangat jelas. Aku menarik kepalaku dari jendela. Aku ingin menjaga pandangan seperti sosok lelaki itu. Aku memaksa kakiku untuk melangkah menjauh dan duduk di bangkuku. Lebih baik belajar untuk ulangan ekonomi besok.
Ah, aku frustasi berat. Aku curiga ada yang menempelkan foto Fabi (aku capek memanggilnya ‘Lelaki Bersorban’) di segala tempat. Aku baru berapa kali jumpa dirinya tapi wajahnya seakan ada dimana-mana. Atau jangan-jangan, reseptor otakku menerjemahkan segala impuls yang masuk menjadi dirinya? Aduh, melankolis benar aku ini. Hm, aku yakin dia bukan santri putra sini. Tidak, dia baru saja berjalan di gedung madrasah putri pada jam sekolah. Apa dia guru baru? Atau karyawan baru? Atau malah tukang kebun baru? Ah, makin lama makin kacau aku.
“Lihat, ada Gus Kafa!”, seru Fida keras. Sontak saja, semua anak kelasku medekat ke jendela kecuali aku. Aku bingung. “Lin, sini nggak papa. Gus Kafa sudah dijodohin sama ning, kok,” kata Sofa padaku. “Mumpung lagi di Jogja, lo, Lin. Baru pulang dari Jombang, paling-paling habis ini boyong lagi ke Jombang,” tambah Virda. Aku mulai goyah. Aku mengintip Gus Kafa yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Dan sosok di balik jendela itu masih sama.
***


Cerpen Rahasia Usy

RAHASIA USY
“Yang benar kau tidak ikut studi wisata?” tanyaku sekali lagi. Ia hanya mengangguk lemah. Aku sudah lelah mengatakan padanya betapa anak kelas mengharapkan ia ikut, namun sampai sekarang ia masih saja keras kepala. “Lihat, ini hasil urunan anak sekelas buat kamu. Segini ini sudah cukup untuk bayar dan uang jajanmu studi wisata. Sekarang, kamu masih mau menolak untuk ikut?

 Ia menatapku sambil menggigit bibir bawahnya. Aku hampir ingin tertawa demi melihat ekspresi wajahnya yang mendadak aneh itu. Ia memalingkan mukanya kemudian terlihat berpikir keras.

“Aku tetap tidak bisa. Maafkan aku.”

Kami berteman baik sejak kecil. Tak kusangka ia bisa berkata begitu kemudian berlalu meninggalkanku dengan kepala tertunduk dalam.
***
“Ah, kurasa dia memang terlalu banyak berubah semester ini. Jadi lebih pendiam, gak mau ikut lomba debat, diajak main juga ga pernah berangkat. Tapi memang tidak ikut studi wisata itu termasuk kategori keterlaluan,” komentar Tohari saat aku menceritakan usahaku membujuk Usy kemarin.

Mataku menangkap Usy yang sedang bercanda dengan siswi-siswi lainnya. Tak nampak berbeda, tetap Usy yang blak-blakan, ketawa keras, dan ekspresif. Nilai raportnya memang standar, tapi kepercayaan dirinya tak punya tandingan. Karena aku dan semua anak di kelas XI MiA 3 telas sekelas dengannya selama satu tahun, tentu kami telah saling mengenal sifat satu sama lain. Apalagi Nur Firdausy. Usy sering tidur di kelas dan mengupil saat ada guru. Pakaiannya tidak pernah disetrika kecuali mau lomba. Usy sangat aneh. Ah, bukan aneh, tapi, apa ya. Ah, ya. Semacam eksentrik. Nah, begitulah Usy. Tentu saja kami langsung kaget begitu Usy menyatakan ia tak ikut studi wisata. Siapa yang akan jadi biang onar nanti?

“Pak Ketua, jangan suka melamun nanti kerasukan!” Usy berteriak kencang mengagetkanku (dan anak-anak lain jelas). Kemudian ia tertawa, tanpa beban. Melihat sosoknya yang berbanding terbalik dengan yang aku temui kemarin, aku sedikit merasa risih. Akan kuhampiri lagi ia siang nanti. Sebelum kami bimbingan olimpiade. Usy, temanku itu harus ikut. Semua anak kelasku harus ikut. Harus!
***
“Us,”

“Eh, Pak Ket. Ada apa?” ujarnya ceria sambil menata buku biologi dari tas ke pangkuannya. “Jujur, deh. Kamu ada apa, sih? Kamu tak mau ikut studi wisata dan jarang mau ikut lomba. Kenapa?” kutanyai begitu ia menunduk. Ada rona yang secara tiba-tiba meredup dari wajahnya.

“ibuku sakit, Wildan. Ayahku kerja di Malaysia. Aku tak puny adik maupun kakak, atau pembantu. Kami hanya hidup berdua di rumah. Aku tak akan meninggalkannya hanya untuk studi wisata.” Usy menundukkan kepalanya. “Jadi tolong jangan paksa aku terus-menerus,” lanjutnya.

“Kenapa kau tak pernah cerita padaku, Us? Kalau tahu begini aku tak akan memaksamu.” Kataku dengan perasaan jengkel dan sedikit menyesal. Usy mendongakkan kepalanya ke arahku. Kedua bola matanya menatapku dengan sendu.

“Kupikir yang terbaik begitu...” Usy berkata pelan. Ia kembali melanjutkan,
“karena kau pun tak pernah bercerita padaku saat ibumu meninggal tahun lalu.”
***
LINA JUHAIDAH
KELAS XI IPA 3
MA ALI MAKSUM, KRAPYAK
Jalan K.H. Ali Maksum PO. Box 1192
Krapyak, Yogyakarta
Indonesia 55011
(Dimuat di Rubrik Kaca Harian Kedaulatan Rakyat di hari Jumat, 27 November 2014)

MIMPI


“Aku akan pergi ke Jepang,” ucap laki-laki di depannya pelan.

“Jepang? Sekarang? Bukankah seharusnya kita pergi bersama ke sana setelah lulus SMA?”, tanyanya beruntun. Gadis itu sangat kaget mendengar pernyataan pemuda itu barusan.

“Kau yang mengajakku bermimpi untuk dapat bersekolah di Jepang, tempat teknologi tak pernah berhenti berevolusi. Tempat dimana pengetahuan tak pernah usai dikembangkan,” katanya lagi dengan nada bergetar, mencoba mengingat kalimat-kalimat yang pernah terlontar dari mulutnya.

“Ya, itu benar dan itu bagus. Aku tak akan menggagalkan mimpimu. Ayahku harus kesana dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Anggap saja kepergianku ke Jepang adalah pertanda bahwa kau juga pasti akan ke sana,” ujar pemuda itu dengan nada frustasi, bingung harus meladeninya bagaimana lagi.

“Baiklah. Tunggu aku karena satu tahun lagi aku akan menyusulmu. Tak pergi bersamamu bukan berarti aku tak jadi pergi” kata sang gadis akhirnya. Apapun yang  ia katakan tak akan mencegah tetangga sekaligus sahabat yang  ia kenal sejak SMP itu untuk pergi.

***
Hai. Apa kabar? Aku di sini baik-baik saja, kalau saja rindu menggebu pada kota kelahiran bukan penyakit.
Jepang sangat keren menurutku yang sudah 16,5 tahun hidup di Indonesia. Akan tetapi, aku tinggal di Kyoto dan ini membuatku tak bisa melupakan Jogja kita tercinta. Orang-orangnya yang ramah dan denyut kota yang tak secepat di Tokyo mengingatkanku akan Jogja. Aku juga bepergian kemana-mana dengan bus, sama persis seperti di Jogja. Perbedaannya adalah ketiadaan gadis gendut jelek di sampingku, hehe.

Sha, aku baru tiga bulan di sini tapi aku bisa langsung menebak tempat favoritmu kalau ke sini, yaitu... Nishiki Market! Pasti ini akan menjadi surga bagimu, karena pasar ini menyediakan semua macam makanan yang enak-enak. Oh, ya, aku selalu ingat opak buatan nenekmu yang sering kau bawa ke kelas kalau makan senbei, sejenis kue beras yang mirip dengan opak. Tapi, ada suatu tempat yang tak boleh kau lewatkan, Philosopher’s Path! Tempat yang benar-benar luar biasa!

Asha membenahi kacamataku yang melorot dan tersenyum. Rafiq bahkan tak berhenti mengolok Asha saat ia sudah berada jauh di Kyoto.

Rafiq, aku malu untuk mengakui kaiau aku juga kangen, haha.
Aku langsung tertarik pada Nishiki Market yang kubayangkan seperti Pasar Prawirotaman yang sering kita kunjungi.
Ibuku masih ngotot agar aku masuk UGM, tapi aku sangat ingin ke Jepang. Ada satu program beasiswa yang kukejar. Doakan saja, deh.

Asha membaca kata-katanya sekali lagi, kemudian mengirimkannya. Pandangannya kemudian jatuh pada rimbun pohon yang bergoyang pelan ditiup angin. Sepintas ia jadi ingat gambar pohon beringin yang menjadi logo Universitas Kyoto.

Pohon mangga besar di depan rumah yang biasanya berdaun hijau segar, kini agak kering. Ia rasa dedaunan yang menari itu mencoba menitipkan salam pada hujan lewat angin yang sedang bermain dengan mereka. Tiba-tiba ia teringat Rafiq yang sering memanjat pohon itu, dulu.

Asha juga ingin menitipkan salam lewat angin padanya, sahabat yang tak lagi dapat ia lihat setiap hari.

***
“Kenapa harus Jepang?”

“Aku tak tahu”

“Tak tahu?!”

Asha menghela nafas pasrah. Ia tak pernah mengira akan begini. Ibu adalah orang yang tak pernah berhenti mengingatkannya akan keajaiban sebuah imajinasi. Akan bahaya membatasi bermimpi, apalagi membunuh mimpi itu sendiri.

“Ibu tak ingin melarangmu mengejar mimpimu, Sha,” kata Ibu seakan membaca isi otaknya. Mata Asha terbelalak senang mendengarnya.
“hanya saja kau harus tahu, ibu tak punya apa-apa selain kamu,” Ibu berkata sambil lalu.

Asha memejamkan matanya erat-erat, mencegahnya basah.

“Tapi Asha sudah apply,” serunya lalu menggigit bibir. Asha dapat mendengar desahan Ibu di dekat pintu kamarnya.
“Kalau kau diterima, baiklah,”

Gadis berkacamata itu langsung sumringah mendengarnya.

***
Raf, Ibu mengizinkanku pergi kalau apply-ku diterima. Duh, sudah tidak sabar merasakan dinginnya salju, menyentuh lembut kelopak sakura, naik kereta bawah tanah... Pokoknya kau harus doakan aku terus, Raf.

Asha mengirimkan pesan singkat itu pada Rafiq lewat facebook. Dia tidak membalas apa-apa, malah mengirimi Asha sebuah link.

Lagu ini judulnya Kyoto. Aku suka sekali mendengarnya, tulis Rafiq kemudian.

Asha cepat-cepat mendengarkan lagu itu, kemudian mencari lirik dan terjemahannya.

“...Kisetsu ga kawaru mae ni Anata no sora wo nagareru kumo wo Fukaku nemuru mae ni Anata no koe wo wasurenai you ni...” – Kyoto, Judy & Mary

“...Aku tidak akan melupakan awan yang berarak di langitmu
Sebelum musim itu berganti
Aku tidak akan melupakan mendengar suaramu
Sebelum aku jatuh pada tidur yang nyenyak...”

Nada lagu itu yang ceria seakan menyemangatinya untuk dapat segera mengunjungi tempat lagu itu berasal.

Seharian itu Asha tak bosan mendengarkannya. Ia bertekad untuk dapat mewujudkan apa yang ia mimpikan bersama sahabatnya sejak kemarin dulu.

***
Sebulan yang lalu Rafiq lulus dari sebuah SMA di Kyoto dan pemuda itu juga sudah diterima di Teknik Kimia Universitas Kyoto.

“Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu...”

Lagu yang dinyanyikan Kla Project dari iPodnya itu benar. Jogja memang masih seperti dulu. Prawirotaman bahkan tak ada bedanya dengan dulu, kala dia dan Asha masih sering berlari pagi kesana, kemudian temannya yang suka makan itu akan membeli banyak sekali makanan.

Jadi ingat Nishiki Market, batinnya.
Langkah kaki membawanya ke tempat yang tak mampu  ia lupakan, sebuah rumah putih berukuran sedang yang selalu terlihat hangat. Pohon mangga yang menjulur sampai balkon lantai dua itu masih sama, hanya fisiknya yang kini terlihat agak tua. Sama seperti raganya.

“Raf!”
Seorang ibu yang sedang menyapu daun-daun kering berseru begitu melihat Rafiq di ambang pagar, kemudian memeluknya erat. Lelaki itu tersenyum lemah.

“Masuk dulu, Raf,”

“Nanti, Bu. Saya mau ke Asha dulu,”
jawabnya lemah, ibu tua itu tersenyum lalu mengangguk.

Dengan tak sabar aku berbelok dari gang Mawar menuju ke arah Dongkelan. Di sebuah area sepi, yang bahkan terlalu sepi untuk ukuran tempat yang berisi banyak orang.

Pipi Rafiq mulai basah, gadis itu menantinya di bawah nisan batu sebelah sana. Sebuah truk menabraknya tepat saat ia menuju kantor pos, mengirimkan berkas-berkas yang dibutuhkannya untuk pergi ke Jepang. Untuk mewujudkan mimpi yang pernah dirangkai gadis itu dulu. Mimpi untuk melanjutkan studi di Jepang, bersamanya.

“...Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati” –Suasana Jogja, Kla Project.

KOIN

KOIN

Sial, gumamku dalam hati. Pagi-pagi buta begini, sepulang membeli wortel di Pasar Pagi, dia sudah ngangkring dengan kaki di atas kursi serta rokok di sela jari. Aku meliriknya sekilas. Dia balas menatapku, ganas.
***
Reza –seperti biasa- sudah duduk manis di kelas saat sesaentaro sekolah hanya berisi satu nyawa -Pak Gito, sang penjaga sekolah. Aku sengaja berangkat pagi karena hari ini jadwalku piket, namun sepertinya aku berangkat terlalu pagi. Reza yang masih sendiri di kelas adalah buktinya. Aku mengambil sapu dengan malas.
***
“Lin, kamu sudah paham?”, Reza bertanya dengan sungguh-sungguh padaku. Aku terpaksa  mengangguk pelan. Bagaimana lagi, Reza sudah menerangkan teori fisika kuantum selama hampir satu jam dan bulir peluh besar-besar tampak jelas di pelipisnya. Mana mungkin aku harus jujur kalau sebenarnya aku masih tidak paham? Ah, aku harus begadang lagi nanti malam, supaya besok saat ditanya aku bisa walau sekedar menjawab apa adanya.

Kuperhatikan Reza yang sedang menyeka peluhnya kemudian tersenyum ramah padaku. Reza, manusia sempurna, baik wataknya, master fisika, murid yang selalu dipuja-puja, idola para wanita. Aku hampir saja dilabrak kelompok-pemuja-Reza gara-gara dianggap dekat dengannya. Aku acuh saja. Toh, bukan mauku bisa terkurung dengannya berjam-jam hanya untuk mendengarkan ceramah fisika yang membuat sel-sel saraf di otakku malas bekerja.

“Taro mana? Tidak berangkat lagi?,” tanyanya dengan tatapan tajam. Aku mengangkat bahuku. “Sepertinya”. Selanjutnya, bisa kutebak, Reza akan mendengus sebal dan memalingkan muka. Aku tahu, sekalipun ia tak pernah mengatakannya pada aku maupun siapapun, Reza tak suka pada Taro. Kukira semua orang pasti tahu itu –atau semua orang pasti membenci Taro, entahlah.

Mungkin sebaiknya Reza tak tahu, aku baru saja membaca status Taro terbaru, “hang out”. Maka bisa kupastikan bahwa sekarang ia berada di sebuah mall atau planet lain -aku tak tahu, dengan rokok di sela jari –yang ini sudah pasti.

“Tiga hari ke depan aku ada kegiatan. Maka, kamu belajar sendiri, ya,” Reza berkata dengan nada serius. Aku mengangguk dengan pandangan masih tetap mengarah pada buku fisika tebal di pangkuanku. Siapa peduli dengan kegiatan Reza yang membuatnya jarang menampakkan batang hidungnya di sekolah?

“Jangan tiru Taro, kalau kamu benar-benar mau berhasil di lombamu besok,” tambahnya berapi-api. Anggukanku baru setengah jalan sampai Reza meneriakiku, ”Jangan cuma mengangguk, dengarkan!”
“Iya, Za,” jawabku malas sambil memalingkan muka.

Sepertinya, hanya aku yang benci setengah mati pada fisikawan yang satu ini. Andai saja kelas sepuluh kemarin ia tidak dapat medali emas OSN Fisika, pasti tahun ini aku dan Taro tak perlu susah-susah mengikuti pembimbingan fisika super eksklusif dengannya setiap hari. Reza menerima pendaulatan dirinya menjadi trainer fisika dengan suka cita, sedangkan aku dan Taro jelas menerimanya sebagai bencana.
***
“Kemarin Reza ngomongin apa aja?” tanyanya dengan muka acuh. Aku tertawa pelan. “Hahaha, entahlah. Aku hanya memperhatikan biji-biji keringat yang tumbuh di dahinya”. “Sekarang latihan soal aja, yuk. Nanti kita bahas bareng,” ajaknya. Aku tersenyum mengiyakan. Mendadak semangatku belajar fisika membludak sampai luber-luber. Kubuka map hijauku yang berisi lembar-lembar soal.

Kalau sebelumnya aku menduga bahwa cuma diriku yang tidak menyukai Reza, maka sekarang aku menyatakan bahwa sepertinya hanya aku yang mengetahui sisi baik Taro –selain bahwa dia pintar fisika. Hanya Taro yang bisa menjelaskan rumus fisika terumit dengan penjelasan yang bahkan bisa membuat anak TK paham bila Taro yang menjelaskan. Reza yang jenius tak akan bisa melakukannya. Tak banyak yang tahu memang. Lagipula, memang tidak ada yang mau tahu tentang hal itu. Orang lain merasa cukup mengerti Taro sebagai anak nakal, tukang bolos, kelayapan, dan tak pernah jauh dari tembakau olahan yang disebut rokok.
Awalnya, Pak Rofiqi dengan yakin memilihku untuk maju olimpiade fisika tahun ini. Namun, karena peraturan ternyata membolehkan sekolah untuk mengirim lebih dari satu orang untuk satu mata pelajaran, maka nama Taro pun keluar, dengan tanpa kerelaan hati para guru. Tidak juga ada seorangpun yang bisa berpikir menggunakan logika mengapa Taro yang demikian itu bisa cemerlang dalam fisika.

“Ro, kenapa tahun kemarin bukan kau yang ikut lomba ini?” tanyaku tanpa sadar. Aku juga tak paham kenapa kalimat itu menerjang mulutku begitu saja. Taro malah terpingkal-pingkal mendengarnya membuatku semakin tak paham.

“Aduh, Lin. Kamu bertanya apa mengejekku?” Taro balik bertanya dengan senyum memperlihatkan gusinya yang merah muda. Aku segera menunduk. Aku tidak kuat melihat senyumnya, nanti bisa-bisa imanku runtuh seketika.

“Mau dikata nilaiku selalu sama persis dengannya pun, anak nakal macam aku mana pantas terpilih?” tanyanya dengan mata berbinar –aneh, ya?

“Sampai detik ini pun, aku tak pernah percaya berada di sini, disuruh berlatih untuk olimpiade fisika. Apa-apaan, coba?” Taro melanjutkan ucapannya dengan tertawa renyah. Mau tak mau aku pun terbawa untuk ikut tertawa bersamanya.

Taro terlihat baik, mengapa ia harus nakal?, aku membatin dalam hati.
“Dulu aku anak baik-baik,” Taro berujar pelan, seakan mendengar apa yang terlintas di benakku. “serius, lho, Lin” tambahnya mencoba meyakinkanku. “Reza sudah rajin sejak kecil. Tapi seringkali peringkatku lebih tinggi darinya. Dia marah dan menjauhiku, hahaha”.

Aku terkesiap mendengarnya. Apa ini? Cerita kelam Reza?

“Aku jadi sebal sendiri, maka kuputuskan untuk membuatnya senang. Awalnya aku cuma jadi pemalas, lama kelamaan jadi bad boy gini, haha,” cerocosnya. Aku melongo, tidak percaya. Entahlah, tapi rasanya aneh saja membayangkan Taro dan Reza berteman.

Aku memandangi Taro yang sedang memperhatikan lembar-lembar soal fisika sambil tersenyum. Sebenarnya, dulu aku sebal padanya. Namun entah sejak kapan aku mulai menaruh hati padanya, dan aku membenci perasaanku itu.

“Everybody has a dark side, Lin. Tukang bolos begini sebenarnya aku anak baik. Orang terlihat ramah macam Reza pun punya kekurangan, tapi jangan dipermasalahkan. Setiap yang punya sisi kanan pasti punya sisi kiri, kutub utara bisa disebut utara karena ada selatan, ada lambang garuda di balik sisi angka, dan sebagainya.”

Aku tertegun. Kini aku sedang melihat sisi koin yang lain, yang berbeda dari yang selama ini aku lihat.
***
Lina Juhaidah
MA Ali Maksum Krapyak

Selasa, 14 Juni 2016

Takut



“Ibu, aku takut.”
“Takut akan apa, Anakku?”

Gadis itu menghela napas panjang, memandang ibunya, kemudian menjawab dengan suara bergetar,
“Aku takut menjadi seorang muslim, Bu”
Sebulir embun lalu mengalir di pipinya.

“Kenapa? Kau selalu nampak ceria setiap belajar mengaji dan mengenakan pakaian muslimahmu, bukankah begitu?”

Ia menyeka pipinya, lalu menjawab pertanyaan yang ibunya berikan.
“Tentu saja, Bu. Sebuah kebanggaan bagiku saat dapat memperdalam agamaku, saat aku dapat menjalankan apa yang diperintah Tuhanku.”

“Ibu besar di Negara yang mayoritas muslim, tidak sepertiku. Setelah merasakan menjadi satu-satunya orang berkulit hitam di sekolah, satu-satunya yang tidak ikut acara makan bersama saat bulan puasa, kini aku hamper tak pernah dipanggil dengan nama panggilanku.”

“Aku bukan orang jahat! Aku tak pernah mencoba menyakiti orang lain, aku selalu berusaha berbuat baik pada tetangga, teman, dan semua orang di sekitarku.”

“Aku senang menunjukkan identitasku sebagai muslimah, aku bahagia Ibu membuatkanku gamis yang cantik ini, tapi saat aku di luar rumah, bahkan orang-orang yang tak kukenal memandangku dengan tatapan tajam!”

“Baju indah ini disebut sebagai baju pembunuh, Bu. Aku tak pernah memegang senjata, tapi aku dipanggil teroris, Bu! Aku tak pernah membunuh orang!”

“Apa karena sebagian besar teroris itu mengaku muslim, maka sebagian besar muslim harus mengaku dirinya teroris?!”


“…Anak-anak muda di AS, kata dia, memang penuh dengan tekanan berat, luar dalam. Di rumah, mereka stress karena tekanan keluarga untuk bisa jadi muslim yang benar di tengah masyarakat liberal Amerika.

Di luar, mereka tertekan oleh penyudutan dirinya sebagai orang Islam. Ditambah soal kehidupan sehari-hari di pekerjaan atau di sekolah.”

-Jawa Pos, 14 Juni 2016.
Pembunuhan masal di kelab malam gay Pulso, Orlando, AS oleh Omar Mateen.


Surabaya, 14 Juni 2016

Kamis, 25 Desember 2014

cerpen Mata Indah



Mata Indah

Deg! Degup jantungku bertempo lebih cepat dari biasanya. Segera kutundukkan kepalaku sebelum jantungku bhermaraton keluar dari rongga dadaku. Saat aku mendongak sedikit, aku tak kuat menatapnya, menatap mata indahnya.
***
Aku baru kelas delapan dan adikku baru saja meninggal karena leukimia setahun lalu. Aku adalah pribadi yang tertutup, dan kepergian Ren, kembaranku, membuatku semakin enggan bergaul.Belajar dan buku adalah pelampiasanku. Sampai akhirnya guruku menunjukku mewakili sekolah untuk maju lomba fisika tingkat kota. Saat itulah, aku menemukan ia mengerjakan soal tertulis tepat di sebelahku. Aku hampir tak menyadari kehadirannya sampai waktu habis dan bola mata indah itu tak sengaja menangkap mataku yang terbelalak melihatnya.

Bukan main. Cahaya matanya adalah gelombang elketromagnetik yang berkecepatan lebih dari 3x108 meter per detik. Anehnya, aku seperti pernah melihatnya.
***
Sekarang aku kelas sepuluh dan dia masih berada satu kota denganku. Tiada henti aku bersyukur aku dan dia tidak bersekolah di sekolah yang sama sehingga kami bisa mewakili sekolah masing-masing dan berjumpa pada ajang yang sama: fisika.

Aku semakin mengenalnya, begitu pula ia. Aku bercerita padanya tentang segala hal. Tentang hobiku, keluargaku, semuanya. Ia memandangku penuh arti saat aku bercerita tentang Ren yang meninggal tiga tahun lalu. Ia begitu baik. Kini, bayangan wajahnya menggantikan rumus-rumus fisika yang kuwiridkan menjelang tidur. Namun frekuensi belajarku juga semakin rajin agar aku bisa bersanding dengannya di podium juara, sekalipun piala miliknya selalu lebih bersar dari milikku.

Pada pertemuan terakhir, aku berujar bahwa aku ingin mengikuti olimpiade fisika internasional, bersamanya. Ia tertawa pelan mendengarnya. Suara tawa yang indah, dan aku seperti pernah mendengarnya. Tapi biarlah. Aku tak peduli. Aku menatap mata indahnya lagi.

Oh, lihatlah. Ia semakin menawan dengan topi hoodie hitam di kepalanya, menutupi rambut keritingnya yang semakin hari semakin jarang saja. Aku tak heran, rumus memang bisa membuat tua sebelum waktunya. Namun, rumus jugalah, yang kemudian melaksa cinta kami berdua.

***
Sebulir embun terjun pelan dari sudut mataku. Tuhan, aku masih tak memercayai ini. Ini mimpi! Dengar; aku dan dia akan menjadi salah dua dari kontingen Indonesia di olimpiade fisika internasional bulan depan. Namun, ah, entahlah. Mataku semakin kabur, napasku memburu, degup jantungku beradu. Aku hanya mampu tersedu.
Si mata indah itu, kini aku tahu di mana kami berjumpa di masa lalu. Ia adalah orang yang selalu kutemui saat aku menjemput Ren di rumah sakit untuk menjalani kemoterapi. Sekarang ia mungkin telah bertemu Ren. Aku hanya bisa berlutut dan terisak di depan sebuah nisan batu. Si mata indah itu meninggalkanku. Ia sudah terkubur di depanku, memendam harapan-harapan indah kami, dulu.

Lina Juhaidah
Kelas XI IPA 3 MA Ali Maksum, Yogyakarta

cerpen Takziran Bu Durroh



TAKZIRAN BU DURROH

“Ruroh...”

“ngelapi piring tiga puluh,” ujar Ibuk sembari melirikku dari balik kacamatanya.

Aku bergegas bangkit dan beranjak untuk mengambil piring. Sudah jelas itu tadi perintah untuk membersihkan piring. Bukan dari makanan, sayangnya. Melainkan dari debu-debu  yang sebenarnya tak seberapa banyak. Aku tahu perintah tadi bukanlah tanpa alasan, tetapi hukuman. Ya, kuakui kalau kemarin aku bolos –untuk yang ketiga kalinya- dan Ibuk tidak pernah marah. Aku hanya disuruh bersih-bersih. Untuk pembolosan pertama, aku didhawuhi membersihkan jendela. Namun untuk yang kedua dan ketiga, aku dapat jatah mengelap piring. Benar-benar menyebalkan. Aku merasa seperti babu, padahal disini statusku, kan, santri!

Sebenarnya aku bukan tukang bolos. Hanya saja, akhir-akhir ini memang aku merasa kecapekan. Minggu depan aku ikut turnamen Pagar Nusa untuk pertama kalinya di aliyah –aku sudah sangat sering ikut waktu tsanawiyah dulu-. Tentu, aku berlatih hampir setiap hari sepulang sekolah. Aku tak mau sembarangan, karena memang hanya di bidang inilah aku merasa memiliki jati diri, dan bisa memperoleh piagam. Aku tahu bahwa Ibuk pasti akan ‘duko’ kalau sampai tahu aku ikut turnamen. itulah kenapa aku bolos dua hari kemarin. Aku lebih memilih mengelap piring daripada Ibuk tahu badanku yang waktu itu lebam parah. Aku tak mau diinterogasi Ibuk dan akhirnya dikeluarkan dari madrasah huffadz lil banat ini.
***

Bu Durroh –yang biasa dipanggil ‘Ibuk’ oleh santri-santrinya- menatapaku sekilas dan mata kami sempat bertemu. Aku merasa melihat senyumnya samar-samar kemudian. Duh! Aku jadi makin deg-degan saja. Kemarin aku bolos -lagi! Dan itu berarti untuk yang keempat kali. Otakku terasa berputar-putar menebak apa ‘piket’ku kali ini. Hatiku terus berdoa dengan mulut komat-kamit agar entah bagaimana, tiba-tiba saja Ibuk lupa kalau kemarin aku tak menampakkan batang hidungku yang lebar ini.

“Ruroh,”

Ibuku memanggilku sambil mengedikkan kepalanya. Deg! Namaku dipanggil! Oh, tidak. Matilah aku setelah ini. Namun ketika aku maju Ibuk diam saja. Aku sedikit merasa bingung.

“Ayo lhek diwaca tahfidzmu dina iki,”

Waa, doaku terkabul! Lega benar aku. Aku pun menyetorkan hafalanku dengan tenang. Tapi juga sedikit was-was barangkali hukumanku diberikan setelah ini. Namun, rupanya aku terlalu su’udzon. Selesai aku tahfidz, Ibuk tampak tidak hirau. Kemudian beliau berdiri dan memandang sekeliling ruangan itu.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,” Ibuk mengucap salam dan seketika musholla bercat krem itu menjadi hening. “aku mau cerita tentang ayahku, Mbah Anwar. Le setor uwis sik.

“Mbah Anwar itu orang ‘alim, ‘abid, dan dekat sama Allah. Mbah Anwar itu tidak biasa untuk menganggur. Beliau selalu menyibukkan diri untuk berdzikir.” Ibuk memberi jeda sebentar, kemudian melanjutkan.

“Dzikir ki ora kok mesti ndekem terus wiridan. Dzikire mbah Anwar itu terus lewat bibir beliau yang tidak pernah berhenti menyebut asma Allah. Mbah Anwar itu ingin bermanfaat bagi orang banyak. dzikir itu wajib, tapi khoirunnaasi  anfa’uhum lin naasi, jadi beliau selalu sibuk mengajar, bercengkrama dengan para santri, dan bahkan bersih-bersih. Seperti menyapu kalau dirasa perlu, mengambil sampah yang tercecer di jalan.”

“Bahkan, ayahku itu di kamarnya ada banyak piring. Kalau dirasa nganggur, beliau berdzikir sambil ngelapi piring.”

“Cah, salah satu tanda cinta itu ittiba’, mengikuti apa-apa yang dilakukan orang yang dicintai. Nah, kalian ini santri Mbah Anwar. Cinta ndak sama kyaimu?”

Ditanyai begitu serentak kami semua membuat koor ‘ya’ dengan kompak.

“Aku itu niatnya nakzir kalian itu bukan nyari untung, tapi juga biar kalian bisa ittiba’ Mbah Anwar. Ngisik-isik kaca, nyapu, ngelapi piring, itu semua  lak yo bersih-bersih, to?” tanpa sadar, aku dan teman-teman di sebelahku mengangguk pelan.

“Lha ya itu biar kalian punya kegiatan yang sama dengan Mbah Anwar, ittiba’ sama Mbah Anwar. Nanti kan saya kepinginnya kalian juga bisa jadi ‘alim dan ‘abid kayak Mbah Anwar. Kalau nggak disuruh, nggak mungkin, kan, kalian punya inisiatif ngelap piring? Sekalian juga biar kalian itu jera. Maunya saya kalian ngajinya itu lancar dan hafalannya bagus bisa disemak, makanya kalau bolos saya beri takziran. Tapi kok ya ada yang ditakzir nggak jera-jera,”

Kemudian Ibuk melirik ke arahku, dan tersenyum.

***



LINA J. MA’RUF
Santri kelas XI MA Ali Maksum, Ponpes Krapyak, Yogyakarta
Komunitas Sastra Menjangan, Krapyak
Jalan K.H. Ali Maksum PO. Box 1192
Krapyak, Yogyakarta
Indonesia 55011

Jumat, 15 Maret 2013

SEPOTONG COKELAT TERPAHIT



SEPOTONG COKELAT TERPAHIT
Lina Juhaidah

“Darren!” suara membahana dari mulut seorang siswi terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Kucing berserta para tikus berlari terbirit-birit menuju kandang. Yang merasa namanya disebut beranjak malas dari bangku depan kelas. “Apa?” Darren melongok dari jendela tanpa gairah. “Oh, tak apa. Pergilah!” bentak siswi gendut itu galak. Darren tersenyum penuh kemenangan dan kemudian kembali ke bangku depan kelas.
Siswi itu adalah Evanna Schneider, siswi kelas II A yang baru saja terpilih menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya.Siang ini ia menemukan tiga pena miliknya digantung di kusen pintu kelas sepulangnya dari ruang guru. Tak salah lagi, orang yang mengerjainya pastilah sama sejak setahun yang lalu, pasti Darren Dawkins. Eva –begitu ia biasa dipanggil- sepertinya sudah cukup lelah memarahi Darren, dan kini ia hanya cemberut kesal.
Eva meraih kotak bekalnya yang sudah diisi penuh dengan wedge potatoes buatan ibunya, dan membukanya. “Halo,” sapa seseorang tiba-tiba sambil menepuk pundak Eva keras, kemudian mencomot bekal Eva dengan cekatan. Eva tersentak dan tertawa melihat ulah sahabatnya. “Calm down, Ann,” Eva berucap pelan, dan mereka menghabiskan bekal Eva tanpa perlu waktu lama. Waktu berjalan lancar di sepanjang hari, hingga hari Rabu itu berakhir.
* * *
Hari ini hari Kamis. Seperti biasa, Eva berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia mendapat jatah menyapu di hari Kamis bersama Claire, Darren, Dick, dan Ed. Ed baru saja datang dan sedang berlari mengambil sapu, Claire sudah selesai menyapu bagiannya, dan Dick sedang memperagakan sapu terbang di depan adik kelas tujuh dengan sapu ijuk yang dibawanya. Tinggal Darren yang belum nampak.
Eva ingat Darren berkata bahwa ia akan mengikuti Olimpiade Matematika dari hari Kamis sampai Sabtu minggu ini. Bukan suatu hal baru sebenarnya, tapi tetap saja Eva tak bisa mengelak sepi saat tubuh kurus Darren tak berkelibat di matanya. Eva meraih sebungkus coklat –hidangan penghalau galau versi Evanna Schneider- dan memakannya.
Dasar bocah jenius, batin Eva kesal. Darren, pemuda berambut acak-acakan yang sangat mahir berhitung, mendapat nilai A di setiap eksperimen kimia, dan menjadi peringkat teratas pararel dalam buku pencapaian hasil belajar itu benar-benar membikin iri Eva. Darren yang mengesalkan, meski dalam hati diam-diam Eva menaruh kagum padanya. Eva mengutuk dirinya sendiri yang tak pernah cermat dalam menghadapi matematika, walau ia cukup mahir dalam sejarah dan bahasa.
Sudah tiga minggu terakhir sejak menjadi ketua organisasi di Avonmore Junior High School, Eva semakin dikenal. Evanna cukup tenar karena keramahan dan keceriaannya, begitu pula dengan kemampuannya berbahasa. Eva memang tampak menonjol, terutama karena kerudungnya. Siswi berkerudung di
Avonmore tidak anyak dan bisa dihitung dengan jari. Tetapi dengan adanya Eva menjadi ketua organisasi siswa yang jago berdebat, kemampuan mereka terbukti tidak dapat diremehkan.
“Hei,” seru seseorang membuyarkan lamunan Eva. “Eh, halo,” jawab Eva ramah. “Kau dipanggil oleh Mr. Daimler,” kata anak itu lagi. “Terimakasih, Ed,” ujar Eva sembari tersenyum. Cepat-cepat ia meletakkan sapunya (ia melamun sambil berdiri memegang sapu!), dan berlari kecil menuju ruang guru.
* * *
“Damn,” Darren mengumpat pelan. “Apa, Darren?”. “Oh, tak ada apa-apa, Sir. Hanya sedikit pusing”. “Pantas. Sebaiknya kau memang istirahat dulu, Darren. Masih banyak yang akan kau tempuh besok,” ujar Mr. Johannes lembut. “Iya, Sir. Terimakasih”.
Darren meletakkan buku-bukunya dan langsung menjatuhkan diri di atas kasur. Ia menjambak pelan rambutnya yang tak pernah rapi itu. Soal-soal yang dihadapinya tadi memang membuat kepalanya berat. Tapi kerinduannya pada seorang gadis gendut besuara nyaring itu juga menyiksanya.
* * *
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam beralih menjadi hari. Hari ini hari Senin, murid-murid Avonmore Junior High School berangkat dengan sedikit malas dan masih dibayangi keasyikan hari Sabtu dan Minggu mereka masing-masing.
Annie menatap jam tangannya dan merutuk dalam hati. Bel masuk sudah terdengar sejak sepuluh menit yang lalu. Semua murid sudah duduk di kursinya masing-masing dan sudah membaca doa, tapi satu kursi di sebelah Annie masih kosong. Rambut kucir kuda Annie menyibak keras saat ia menggeleng, membayangkan ketua organisasi siwa itu terlambat masuk. Di seberang kelas, Darren merasakan hal yang sama. Namun Evanna masih belum terlihat. Pelajaran sejarah kali ini terasa sunyi tanpa kehadiran Evanna.
“Annie. Hei, Ann!” seru Darren keras setelah bel istirahat berbunyi. “Halo, Darren,” sapa Annie mengalihkan pandangannya dari Ben Sheeran yang sedang bermain basket. “Apa kabar?” tanya Darren membuka percakapan. “Kau menanyakan kabarku atau sahabatku?” balas Annie spontan. “Eh? Umm,” desah Darren salah tingkah. “Aku tidak tahu kenapa ia tak masuk hari ini. Kemarin kami bersepeda di sepanjang Avonmore Road dan ia tak mengatakan apapun tentang sakit atau bepergian atau sebagainya,” cerocos Annie. “Mungkin ia sakit karena beberapa hari tak bertemu denganmu,” tambahnya. “Tidak, kurasa bukan karena itu. Terimakasih, Ann” ujar Darren dan ia langsung masuk ke kelas. Mukanya merah padam.
“Selamat, Darren,” suara Meg mengejutkan Darren. Meg Blacklum adalah siswi kelas sebelah yang dikenal sebagai penggemar berat ilmuan Avonmore yang satu ini. “Err, selamat untuk apa?” tanya Darren kebingunan. “Oh, ayolah. Leon sudah bercerita padaku. Kemarin kau menang, bukan? Selamat, Darren. Aku tahu kau pasti mendapatkannya,” ucap Meg dengan nada yang dibuat sedemikian rupa yang menurut Darren seperti tikus terjepit dalam pipa air.
 “Leon? Ah, dia cerita tentang banyak hal. Itu bukan hal yang patut dibanggakan, semua wakil dari sekolah kita mendapatkannya,” kata Darren sambil mengangkat bahu. Leona Wolf adalah wakil Biologi yang terkenal gemar bercerita tentang apapun, termasuk hal-hal yang dianggap tidak penting bagi sebagian besar orang. “Shut up, Darren. Aku hanya ingin memberi ucapan selamat padamu dan memujimu sedikit, tapi kalau itu mengganggumu, aku akan pergi. Terimakasih.” Meg yang berjalan angkuh meninggalkan Darren yang hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan tingkah konyol Meg.
* * *
“Sudahlah, Mum. Please jangan perlakukan aku seperti orang sakit kalau kau ingin aku cepat sembuh,” desah Eva dari balik bantal. Ibunya yang sedang meracik obat tersenyum lembut. “Tenanglah dan berhenti mengeluh, honey. Kalau kau tak ikut adikmu bermain di bawah hujan kau tak akan seperti ini”. “Dan sayangnya setiap kalimat kalau tak pernah ada gunanya karena selalu diucapkan setelah semuanya terlambat,” sahut Eva cepat. “Oh, diamlah, Kak. Aku juga sakit dan kukira akan lebih baik bagiku dan bagimu untuk tidur”. ”Shut up, Nick. Ini semua salahmu,” telunjuk Eva mengacung pada tubuh lemah adiknya yang juga demam.
“Aku selalu bermain saat hujan turun dan aku juga ingin bermain kemarin. Aku tak mengajakmu,” balas Nick ketus. “Cukup untuk perdebatan kali ini dan segeralah tidur sebelum aku berubah pikiran dan menyuruh kalian menelan batu Sungai Crushwater,” Nyonya Schneider berkata tegas. Sungai Crushwater terkenal sebagai sungai berarus deras dengan batu-batu besar. Kabarnya, batu Sungai Crushwater bisa menyembuhkan segala penyakit, tapi mempunyai rasa seperti rakun mati, serta kekerasan yang bisa membuat gigi-gigi remuk dan gusi bernanah, tanpa diketahui siapa yang pernah mencobanya.
Eva mendengar Nick mendengus keras. Hampir saja ia akan bicara sampai dilihatnya kedua mata Mum yang membelalak mengancamnya. Eva merogoh sebuah telepon genggam dari balik bantal dan terlihat olehnya ada banyak pesan yang masuk. Annie. Eva terfokus pada nama sahabatnya itu. Segera ia membalas pesan Annie yang menanyakan kabarnya. Satu hal yang membuat Eva sedikit kecewa, ia tak menemukan nama ‘Darren’ di kotak masuknya.
* * *
“Oh, God. Apa salahku pada Eva? Dasar bocah tengil menyebalkan,” umpat Darren dari pojok kamarnya. Sudah beberapa kali Darren mengirim pesan pada Eva, namun tak satupun yang dibalas. Ini sudah kali kelima dan ia mulai kesal. Dibantingnya ponsel miliknya ke atas kasur. Ia meraih kasar salah satu buku dari rak dan berpendapat membaca novel horor bisa membuatnya lebih baik.
* * *
Annie merasa sangat bahagia tiga hari terakhir. Ben Sheeran, kakak kelas IX yang jago basket itu menyapanya dua hari yang lalu, dan hal sepele macam itu bisa memunculkan euforia yang bertahan sampai seminggu lamanya. Namun, ada yang janggal hari ini. Darren dan Eva diam dan tak saling bertegur sapa. Kedua temannya itu juga jadi sangat membosankan. Ia mencoba menanyai mereka satu-
satu tapi keduanya hanya menggeleng lemas. Tak bisa menghalau rasa penasarannya, ia memaksa Eva untuk bercerita.
“Aku tak apa-apa, Ann. Aku sudah mengatakannya berulang kali padamu, aku tak apa-apa. Aku kemarin memang sakit, tapi hari ini aku sudah sembuh total. Kau tahu sendiri Mum tak akan pernah membiarkanku sekolah dengan keadaan demam, aku sudah sembuh! Tolong percayalah padaku dan berhenti menatapku seperti itu,” ujar Eva tegas. Dilahapnya sepotong coklat dari genggamannya dengan kasar.
“Kau berkata seakan aku tak kenal kau. Berdusta pada sahabatmu adalah hal bodoh yang percuma, Eva. Berhentilah berbohong dan katakan apa yang terjadi padaku,” Annie merangkul Eva. “Kau benar, Ann,” Eva mengangguk. “Tapi mungkin aku memang makhluk terbodoh yang pernah kau jumpai. Annie, aku sedang marah dengannya dan ia tak mengucap maaf padaku,” cerita Eva dengan kepala tertunduk.
“Dengannya? Darren?” tanya Annie penuh selidik. Evannna memperlahan kecepatan mengunyah coklatnya dan mengangguk kecil. Ia menceritakan kekesalannya pada Darren yang tak mengirim satu pesan pun kepadanya saat ia sakit.
“Astaga, ini gila!” seru Annie sembari bangkit dari kursinya tepat setelah Eva menceritakan kekesalannya. “Ada apa? Harusnya aku yang mengucap ‘ini gila’, bukan kau”. “Ah, aku bingung, Ev. Tadi malam Darren mengirimiku pesan dan-“ “Tidak adil! Kenapa dia tak melakukan hal yang sama padaku?” Eva berteriak keras, menyela perkataan sahabatnya. “Kau menyelaku,” keluh gadis berkucir kuda itu kesal.
“Maaf,” ujar Eva segera. “Apa yang dikatakannya?” tanya Eva hati-hati, tak ingin melukai hati sahabatnya. “Darren mengeluh padaku semalam. Ia mengatakan padaku telah mengirimkan pesan untukmu sampai tujuh kali, tapi tak ada satupun yang mendapat balasan. Bertolak keras dengan apa yang baru saja kau ceritakan,” ujarnya bingung dan kemudian menggelengkan kepalanya keras tanda bingung. Rambut kucir kudanya mengenai pipi Eva.
“Aneh,” gumam Eva pelan. “Lalu, bagaimana?” tanya Ann. “Ah, sudahlah. Kurasa itu bukan suatu hal penting,” jawab Eva masih dengan suara pelan. “Ann,”. “Ya?”. “Kau mau menemaniku nanti sore? Aku baru saja teringat suatu hal penting dan aku rasa akau harus pergi sebentar sore ini. Kau mau menemaniku, Ann?”. “Whenever, Babe,” balas Annie senang sahabatnya sudah mulai tersenyum kembali.
“Thanks a lot, Ann. Aku tak tahu sehancur apa aku tanpa kau, -dan coklatku,” tambah Eva cepat. Annie tertawa dan meremas tangan Eva. “Sekarang aku yang menyelidikimu, Ann”. “Eh, apa?”. “Bisa kau ceritakan kenapa kau terlihat sangat bahagia akhir-akhir ini?”. “Umm, aku tak tahu. Kurasa melihat kau bahagia juga membuatku bahagia. Bagaimana menurutmu?”. “Hm, tidak juga. Kurasa kau tak akan bahagia bila aku mengusulkan agar kelas kita jauh dari lapangan basket,” ujar Eva menggoda. “Hah? Hei, diam Evanna Schneider, atau kujelali mulutmu dengan setruk batu Crushwater!” jerit Annie keras. Dikejarnya Eva yang sudah berlari menghindari amukan Annie.
* * *
Pagi ini Darren memacu sepedanya menuju sekolah dengan kecepatan ganda. Rumah Darren bersebelahan dengan Hotel Baverlies, dan terbilang cukup dekat dengan Avonmore Junior High School. Hal itulah yang membuatnya memilih sepeda kayuh sebagai kendaraannya pulang pergi sekolah. Entah apa yang merasukinya hari ini, ia merasa sangat bersemangat. Padahal, ia masih saling melakukan aksi kunci mulut dengan Eva, yang sampai saat ini belum membalas satupun pesan darinya. Darren memasuki gerbang sekolah, menyandarkan sepedanya, kemudian melangkah cepat menuju kelas.
“Hai, Claire,” sapa Darren pada salah seorang teman sekelasnya. “Halo, Dare. Baru saja aku dititipi pesan agar kau menemui Mr. Daimler –segera!”. “Damn, aku baru saja sampai!” keluh Darren. “Kalau kau ingin protes, proteslah pada Mr. Daimler. Aku hanya dititipi pesan”. “Kau benar, Claire. Aku akan protes padanya.Bye, Claire,” seru Darren sambil berlari meninggalkan kelas.
Ed datang bersamaan dengan Eva, mereka bertemu di gerbang. “Kau sudah menyelesaikan bagianmu, Claire? Berikan padaku sapunya,” seru Ed melihat Claire yang sedang berjalan hendak meletakkan sapu, yang kemudian berbalik setelah mendengar seruan Ed. “Bukankah ini tas milik Darren? Dimana dia sekarang?” tanya Ed. “Mr. Damiler memanggilnya, Ed. Sekarang lebih baik kau segera menyapu bagianmu, -dan kau juga, Evanna,” perintah Claire. Evanna sedang mengambil sebuah bungkusan dari tasnya dan memasukkannya ke dalam tas milik Darren. Hari ini tanggal dua Agustus –hari ulang tahun Darren!
Eva sudah membeli kado bersama Annie kemarin sore, dan membungkusnya sendiri berjam-jam. Gadis yang selalu memakai kerudung itu merasa sikap Darren padanya akan membaik setelah membuka kado itu –lihat saja!
“Evanna Schneider, kau sedang apa? Memasukkan santet kedalam tas Darren? Oh, pantas saja Leon berkata padaku bahwa tas Darren dilindungi mantra anti guna-guna!” teriak Dick histeris dari dekat pintu. “Aku hanya –apa? Aku tak bermain santet, enak saja!” Eva balas berteriak. Dengan hati-hati ditutupnya kembali resleting tas milik Darren, kemudian mengambil salah satu sapu dari dua sapu yang tersisa.
Eva meletakkan sapunya setelah selesai mengerjakan tugas hari Kamisnya. “Permisi,” terdengar suara seorang gadis dari balik pintu. Claire yang duduk paling dekat pintu segera bangkit dan menemui gadis itu. Shafra!, seru Eva dalam hati. Shafra merupakan salah satu siswi berjilbab selain Eva di Avonmore. Eva segera menghampirinya.
“Oh, kau sudah kemari tanpa perlu kupanggil, Ev. Segeralah kau menemui Bu Gendut sebelum kau dimakannya. Shafra berkata kau telah ada janji dengannya,” ujar Claire. Shafra tersenyum kecil melihat Eva. “Astaghfirullah, aku lupa aku ada janji dengannya hari ini! Thanks, Claire. Thanks juga, Shafra. Bye,” seru Eva cepat sambil meraih tasnya, kemudian berlari menuju Mrs. Maylie.
Kemarin Mrs. Maylie –atau yang biasa disebut ‘Bu Gendut’ di kalangan siswi Avonmore- sudah menghubunginya dan berkata bahwa akan ada penyuluhan tentang bahaya AIDS di Olympia, dan Eva
harus berangkat kesana menjadi wakil dari Avonmore Junior High School dengan Bu Maylie. Eva melihat samar-samar Bu Maylie sedang berkacak pingang di depan ruang guru, dan dapat merasakan kedua mata Bu Maylie menatap tajam ke arahnya. Ia tak menyangka keberangkatannya akan sepagi ini. Sementara itu, bel masuk berbunyi dan Darren sudah sampai kelas.
Pelajaran-pelajaran di hari Kamis adalah kumpulan-pelajaran-yang-paling-tidak-menyenangkan menurut dua puluh anak kelas II A. Tiga jam yang pertama adalah aritmatika dan sejarah. Maka dari itu, saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh dan bel istirahat berbunyi, semua murid mengucap syukur dan segera berlari meninggalkan kelas.
Tetapi tidak dengan Darren. Hari ini ia tidak menemukan Eva di bangku sebelah Annie. Ia mencoba tak memikirkan hal ini dan memikirkan tentang bungkusan-bungkusan dalam tasnya yang membuat ia kesulitan mengambil penanya. Darren terperanjat. Ia baru sadar ini hari ulang tahunnya. Beruntung kelas dalam keadaan tidak ada orang –kecuali Darren sendiri-, sehingga ia bisa membuka bungkusan-bungkusan itu dengan tenang.
Darren meraih bungkusan yang menyembul dari dasar tas. Bungkusan yang panjang dan dibungkus dengan kertas koran! Darren menyangka yang meletakkan ini di tasnya mungkin sudah kurang ajar. Astaga, teleskop! Darren sudah lama sekali menginginkan ini tetapi belum kesampaian. Hingga hari ini, -ia mendapatkannya! Darren tak berhenti bersyukur, ia baru saja akan membelinya sepulang sekolah dengan uang hasil lombanya kemarin, tapi itu tak perlu, Darren sudah memilikinya tanpa perlu susah payah. Ia mencari kertas ucapan untuk mengetahui siapa pemberi hadiah ini sebenarnya, tapi nihil. Kemudian tertangkap oleh pandangannya secari kertas kecil berwarna biru di lantai. Diraihnya dan dibacanya kertas itu.
‘Selamat Ulang Tahun, Darren. Kurasa kau akan terkejut melihat kado dariku ini –aku yakin kau akan menyukainya. Kado ini tak ada apa-apanya dibandingkan besarnya arti kehadiranmu untukku –lebih besar dari batu-batu sungai Crushwater! Aku harap kau mau memaafkanku jika aku punya salah padamu, apapun itu, aku minta maaf. Be succes, Darren. Aku menyayangimu’, Darren selesai membaca ketikan di kertas itu dan tak menemukan sedikit identitas dari si pemberi kado. Inisial atau tanda tangan pun tidak! Tapi dari bahasa yang digunakan serta kalimat yang disampaikan, Darren hampir yakin ia mengetahui siapa pemberi kado.
“Darren, kau sedang apa?” tanya seseorang mengejutkan Darren. “Oh, hai, Ann. Aku membuka kado,” jawab Darren cepat. Diletakkannya teleskop baru itu diatas meja dan ia membereskan kertas koran pembungkusnya. “Teleskop? Great. Kau pasti sangat senang,” kata Annie. “Darimana kau tahu aku menginginkan sebuah teleskop?” tanya Darren kaget. Annie terhenyak melihat ekspresi kaget Darren dan menjawab santai, “Ev menceritakannya padaku”.
Otak Darren berpusing cepat. Diawasinya Annie yang sedang duduk sambil menghabiskan sandwich yang baru saja dibelinya. Darren mengira hanya Eva yang mengetahui ambisinya pada teleskop, sehingga hanya Eva yang mungkin memberinya teleskop. Tetapi ternyata Annie juga mengetahuinya dan Darren tak menemukan Eva hari ini! Darren masih memerhatikan Annie yang sedang tersenyum-senyum
sambil mengarahkan pandangan ke lapangan basket. Kepala Darren pusing. Jangan-jangan bukan Eva yang memberinya teleskop –melainkan Annie!
* * *
Eva melangkah santai hari Jumat itu, membayangkan senyum bahagia Darren karena kado darinya. Darren pasti akan berterimakasih padanya dan mengatakan bahwa ia sudah sangat lama menginginkannya. Atau mungkin, Darren akan mengajaknya melihat bintang di rumahnya nanti malam! Eva begitu bahagia meski hari ini ia berangkat agak telat.Tadi pagi ia mengurusi Sofi, adik bungsunya, karena Mum sedang kurang enak badan. Begitu sampai kelas, Eva terlonjak. Darren sedang mengobrol dengan seorang gadis dan tertawa keras bersama. Gadis itu agak kurus dan berkucir kuda, -gadis yang bernama Shreannie Twist!
Eva melangkah duduk ke bangku sebelah Annie dengan kesal. Diliriknya kedua sahabatnya itu, Darren memberi Eva tatapan sadis! Oh, Eva sama sekali tak tahu ada apa dengannya hingga semua jadi begini. “Halo, Ev. How’s life?” sapa Annie yang rupanya baru menyadari kedatangan Eva. “So bad,” Eva menjawab pelan dan mendengus keras. Ia sama sekali tak menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Annie dan menghindari tatapan tajam Darren seharian ini. Sangat berbeda dengan apa yang dibayangkannya!
Darren semakin menjauhi Eva seminggu terakhir dan Eva juga takut untuk mendekati Darren. Penghuni kelas juga merasa ada yang aneh pada mereka saat mereka tak menimbulkan keributan seperti biasanya. Eva menghabiskan banyak coklat akhir-akhir ini, dan ia anehnya juga merasa sedikit sebal pada Annie. Ia merasa sangat aneh. Susah untuk mengetahui apa yang sebenarnya orang lain pikirkan.
* * *
Merasa tersiksa dengan jarak yang semakin terbentang antara ia, Darren, dan Annie, Eva memutuskan untuk memberikan sebungkus coklat maaf untuk mereka berdua. Eva merasa ini jalan yang paling baik. Ia membeli dua Hans Chocolate batang yang biasa ia bawa ke sekolah, dan menulisi bungkusnya dengan huruf besar-besar, ‘Tolong Maafkan Aku’ menggunakan spidol permanen. Eva meletakkan dua coklat itu masing-masing satu di tas Darren dan Annie pada jam istirahat, kemudian berlari menuju perpustakaan. Mungkin sebuah komik lucu dapat menghiburku, batin Eva sedih.
* * *
Darren menemukan sebunguks Hans Chocolate dan kertas bertuliskan permintaan maaf di tasnya begitu sampai di rumah. Darren langsung teringat pada Eva, dan yakin cokelat itu pemberian darinya. Tapi Darren sedang kesal pada Eva. Eva tak membalas pesannya, tak pernah mengirim pesan lain atau meneleponnya, bahkan tak pernah menyapa atau mengajaknya bicara. Saat hari ulang tahunnya kemarin lalu, Eva juga tak terlihat batang hidungnya.
Come back and tell me why I’m felin’ like I’ve missed you all this time..., Darren terhenyak dari lamunannya, suara kutipan lagu itu terdengar cukup keras. Taylor Swift, batin Darren sebal. Taylor Swift
adalah penyanyi kegemaran adiknya, Lynn, dan juga idola Eva. Eva, Darren mendengus jengkel. Dicarinya sumber suara penyanyi Country asal Amerika itu.
“Hah, dasar,” umpat Darren begitu matanya menangkap ponsel adiknya tergeletak di antara novel-novel horor koleksi Darren. Tak salah lagi, Lynn pasti menyelinap membaca atau malah menguntit novel milik Darren. Dasar anak kecil, bati Darren kesal dan sedikit geli. Rupanya ada yang menelepon adiknya sehingga ponsel itu berbunyi. Darren melihat layar handphone memastikan siapa yang menelepon adiknya. Matanya terbelalak melihat siapa nama yang tertera di sana. Darren menekan tombol mengangkat telepon itu. Nama penelepon itu terpampang jelas di layar. Evanna Schneider.
Darren memutuskan sambungan ponsel Eva tanpa tahu mengapa ia melakukannya. Terang saja ia semakin sebal pada Eva. Pintu kamar Darren membuka dengan suara keras, Lynn ada dibaliknya.
“Darren, aku mendengar suara ponselku dari kamar ini. Cepat kembalikan,” seru Lynn cepat. “Siapa suruh menguntit novelku dan meninggalkan handphone begitu saja? “ serang Darren. “Ambil ponselmu dan segeralah pergi,” perintah Darren sembari melemparkan ponsel Lynn ke atas kasur. Ia benar- benar sebal. Ia tahu adiknya memang dekat dengan Eva tapi mengapa semua jadi terasa tak adil? Eva tak membalas satupun pesannya dan malah menelepon adiknya.
* * *
Hari ini sangat kelabu, awan gelap tebal menggelantung kuat pada hamparan lazuardi. London gempar oleh cerita pembunuhan berantai sekeluarga di sebuah rumah dekat Hotel Great Avonmore. Annie berangkat ke sekolah pada jam yang sudah sangat siang dengan mata sembab. Darren yang sudah datang sejak tadi menyapanya.
“Halo, Ann. Kau menangis? Apakah Ben Sheeran memutuskanmu atau apa?” goda Darren. Annie semakin sesenggukan melihat Darren. Diseretnya tangan Darren. “Hei, kau mau kemana? Menjadikanku tumbal agar kau jadi setinggi Ben? Oh, sudahlah. Ini konyol, Ann,” ujar Darren mencoba bercanda.
Annie memasuki ruang teknologi dan menyalakan satu laptop terdekat. “Berhenti bertingkah aneh dan bicaralah kepadaku, Ann. Bel masuk sudah berbunyi, tak dengarkah kau? Aku tak bisa tahu apa maumu. Membuka e-mail –kau ingin apa sebenarnya? Oh, Ann, kita sudah masuk!” teriak Darren tegas. Annie membuka akun surat elektronik miliknya dan menunjukkan salah satu surat yang diterimanya pada Darren. Darren melihat nama pengirim surat itu –Lynn Dawkins! Ia merasa sangat janggal tapi memutuskan untuk diam dan membaca dengan tenang sampai selesai.
Kak Ann, aku mengirimkan e-mail dari Kak Eva semalam. Tolong dibaca ya, Kak.
“Untuk Lynn
Lynn, aku tak tahu kenapa aku bisa merasa sangat sayang kepada Darren, kakakmu, sebagaimana aku menyayangi Annie. Aku mengira dia juga menyayangiku, tapi kemudian aku berubah pikiran saat kakakmu tak mengirimiku satu pesan pun saat aku sakit. Esoknya, Ann memberitahuku kalau Darren mengeluh tak satupun pesannya mendapat balasan dariku padahal ia mengkhawatirkan keadaanku.
Aku mengecek kotak masuk di ponselku beberapa kali dan tak menemukan namanya, lalu aku mulai berpikir salah satu dari mereka –Darren atau Annie- berbohong kepadaku.
Kemudian aku mengotak-atik ponselku dan kau tahu apa, Lynn? Aku menemukan sepuluh pesan di kotak spam yang kesepuluhnya adalah pesan dari Darren! Oh, betapa kaget dan bersalahnya aku saat itu. Beberapa waktu setelah itu, Nick –adikku yang di sekolah dasar, kau tahu kan?- mengaku telah memainkan ponselku selama satu jam tanpa tahu apa yang ia lakukan. Aku ingin meminta maaf tapi sikap Darren begitu dingin padaku dan aku takut. Ia jadi semakin dingin setelah hari ulang tahunnya.
Aku berpikir keras tentang apa yang salah dengan kado yang kuberikan. Teleskop adalah benda yang paling diinginkannya! Aku benar-benar bingung sampai akhirnya kau memberi tahu kepadaku kalau Darren mengira teleskop itu dari Shreannie Twist, sahabat paling dekatku sendiri. Aku serasa mau mati mendengarnya!
Dan aku jadi merasa sangat sebal dan marah pada Annie. Aku tak menghiraukan semua bujukannya agar aku mau bicara lagi dengannya, aku bodoh! Annie bahkan mungkin tak tahu kalau Darren mengira teleskop itu darinya. Oh, sekarang aku benar-benar malu menyadari aku marah kepada Ann hanya gara-gara Darren! Tidak, aku tak menyalahkan kakakmu, Lynn, akulah yang bodoh.
Kemarin lusa -atau entah kapan aku lupa- aku memberi sebungkus Hans Chocolate yang kutulisi “TOLONG MAAFKAN AKU” pada Darren dan Annie, tapi tak ada tanggapan. Lynn, bodohnya aku tak meminta maaf secara langsung. Tololnya aku terlalu malu pada Darren dan Annie, dua orang yang sangat aku sayang. Lynn, aku bahkan telah menangis sepanjang malam meratapi ketololanku!
Mataku selalu basah memikirkan itu. Eh, Lynn, kau tau Shafra? Gadis berkerudung kelas tujuh di Avonmore Junior High School? Dia sekelas denganmu, bukan? Kemarin lalu dia bercerita padaku kakeknya di Hartfordshire tertembak mati. Pemberantasan muslim, katanya. Dengarkan ini, Lynn, pemberantasan muslim! Memangnya kami hama yang merugikan? Oh, bukankah baik bagi kita untuk hidup rukun dan saling menghargai seperti di Avonmore School? Aduh, aku jadi sedikit was-was sekarang.
Sudah dulu, ya, Lynn. Aku mendengar keributan di luar. Aduh, ada suara seperti bunyi pistol! Aku akan ke beranda, tolong sampaikan maafku kepada kakakmu, ya? Aku ingin persahabatanku dan dia dapat segera pulih. Aku minta tolong dengan sangat agar kau mau membantuku, Lynn.
Oh, aku harus segera keluar kurasa, Sofi baru saja menjerit dan aku harus memeriksanya. Terimakasih, Lynn. Bye.” .E.S.
Penglihatan Darren mulai tidak jelas tapi ia memaksakan diri untuk melanjutkan membaca. Surat dari Eva sudah habis dan dilanjutkan oleh kalimat-kalimat dari adiknya sendiri.
Kak Ann, aku mendapatkan e-mail ini dari Kak Eva tadi malam, tapi aku baru saja membacanya pagi ini. Aku memang pengagum beratnya dan sering berkirim e-mail dengannya. Aku ingin bercerita pada
Darren tapi ia sudah berangkat. Oh, iya, hari ini aku tak berangkat karena sedang flu berat. Kau selalu berangkat agak siang, kan, Kak? Setidaknya kau bisa membaca ini sebelum sampai di sekolah.
Aku baru saja membaca koran dan aku menangis. Segera aku mengirimkan ini padamu. Apakah kau berlangganan koran, Kak Ann? Aku menangis dan menangis sampai sekarang, Kak. Kak Ann aku benar-benar tak percaya. Keluarga Schneider ditembak mati seluruhnya, dan rumah mereka yang berada di dekat Hotel Great Avonmore terbakar habis. Bayangkan, -seluruhnya! Keluarga kak Eva! Kak, aku masih menangis. Kak Eva adalah gadis yang baik dan aku yakin semua keluarganya juga baik, kenapa mereka harus ditembak? Apa karena perbedaan keyakinan? Oh, ini kejam! Kak, aku tak tahu harus berkata apa padamu, aku hanya ingin mengirimkan surat dari Kak Eva ini. Kurasa aku hanya ingin menangis terus dan terus. Oh, sudahlah -bye, Kak.”
Annie menangis keras dari tadi dan berlutut di lantai. Darren tak bisa merasakan apa-apa, dunia menjadi gelap dan berputar-putar. Ia merasakan organ-organ tubuhnya jatuh dan menghilang dari tubuhnya. Hujan mulai turun. Darren merogoh sebungkus Hans Chocolate yang masih utuh dari sakunya. Cokelat itu adalah cokelat yang paling pahit bagi Darren.
* * *