“Ibu, aku takut.”
“Takut akan apa, Anakku?”
Gadis itu menghela napas panjang, memandang ibunya, kemudian
menjawab dengan suara bergetar,
“Aku takut menjadi seorang muslim, Bu”
Sebulir embun lalu mengalir di pipinya.
“Kenapa? Kau selalu nampak ceria setiap belajar mengaji dan
mengenakan pakaian muslimahmu, bukankah begitu?”
Ia menyeka pipinya, lalu menjawab pertanyaan yang ibunya
berikan.
“Tentu saja, Bu. Sebuah kebanggaan bagiku saat dapat
memperdalam agamaku, saat aku dapat menjalankan apa yang diperintah Tuhanku.”
“Ibu besar di Negara yang mayoritas muslim, tidak sepertiku.
Setelah merasakan menjadi satu-satunya orang berkulit hitam di sekolah,
satu-satunya yang tidak ikut acara makan bersama saat bulan puasa, kini aku
hamper tak pernah dipanggil dengan nama panggilanku.”
“Aku bukan orang jahat! Aku tak pernah mencoba menyakiti
orang lain, aku selalu berusaha berbuat baik pada tetangga, teman, dan semua
orang di sekitarku.”
“Aku senang menunjukkan identitasku sebagai muslimah, aku
bahagia Ibu membuatkanku gamis yang cantik ini, tapi saat aku di luar rumah,
bahkan orang-orang yang tak kukenal memandangku dengan tatapan tajam!”
“Baju indah ini disebut sebagai baju pembunuh, Bu. Aku tak
pernah memegang senjata, tapi aku dipanggil teroris, Bu! Aku tak pernah
membunuh orang!”
“Apa karena sebagian besar teroris itu mengaku muslim, maka
sebagian besar muslim harus mengaku dirinya teroris?!”
“…Anak-anak muda di AS, kata dia, memang penuh dengan
tekanan berat, luar dalam. Di rumah, mereka stress karena tekanan keluarga
untuk bisa jadi muslim yang benar di tengah masyarakat liberal Amerika.
Di luar, mereka tertekan oleh penyudutan dirinya sebagai
orang Islam. Ditambah soal kehidupan sehari-hari di pekerjaan atau di sekolah.”
-Jawa Pos, 14 Juni 2016.
Pembunuhan masal di kelab malam gay Pulso, Orlando, AS oleh
Omar Mateen.
Surabaya, 14 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar