riak air
debur ombak
buih putih
terik matahari, angin kencang
panas kering, hembus dingin
air datar, gulungan ombak
menjumpa bibir pantai, pecah, dan tenang kembali
awan tipis menggantung lazuardi biru
bulat surya mengawasi mereka dari jauh
secercah cahaya menerobos lubang jendela
menyilaukan hati yang dirundung duka
laut,
luka ini, bawa pergi saja~
Depok Beach, 230515
Minggu, 05 Juli 2015
Untukmu II
aku hanya manusia biasa (yang mungkin diragukan kemanusiaannya)
bukan anak kyai, anak rektor, anak guru, apalagi anak dinosaurus
tidak cantik, tidak manis, tidak tinggi
tak jenius, tak rajin, tak pandai
bahkan mencuri sedikit perhatianmu pun ku tak mampu
Krapyak, 240515
bukan anak kyai, anak rektor, anak guru, apalagi anak dinosaurus
tidak cantik, tidak manis, tidak tinggi
tak jenius, tak rajin, tak pandai
bahkan mencuri sedikit perhatianmu pun ku tak mampu
Krapyak, 240515
Untukmu I
Padamu, kutemukan ruhku
Ruh merangkai deret-deret huruf , yang menggebu
Kepadamu, hari-hariku yang dulu kelabu
Kau ubah jadi merah, jingga, dan biru
Iya, biru
Kisah merahku lagi-lagi berujung biru
Bertemu tak berarti mampu bersatu~
Krapyak, 010615
Kamis, 25 Desember 2014
cerpen Mata Indah
Mata
Indah
Deg! Degup jantungku bertempo lebih cepat dari biasanya.
Segera kutundukkan kepalaku sebelum jantungku bhermaraton keluar dari rongga
dadaku. Saat aku mendongak sedikit, aku tak kuat menatapnya, menatap mata
indahnya.
***
Aku baru kelas delapan dan adikku baru saja meninggal karena
leukimia setahun lalu. Aku adalah pribadi yang tertutup, dan kepergian Ren,
kembaranku, membuatku semakin enggan bergaul.Belajar dan buku adalah
pelampiasanku. Sampai akhirnya guruku menunjukku mewakili sekolah untuk maju
lomba fisika tingkat kota. Saat itulah, aku menemukan ia mengerjakan soal
tertulis tepat di sebelahku. Aku hampir tak menyadari kehadirannya sampai waktu
habis dan bola mata indah itu tak sengaja menangkap mataku yang terbelalak
melihatnya.
Bukan main. Cahaya matanya adalah gelombang
elketromagnetik yang berkecepatan lebih dari 3x108 meter per detik.
Anehnya, aku seperti pernah melihatnya.
***
Sekarang aku kelas sepuluh dan dia masih berada satu
kota denganku. Tiada henti aku bersyukur aku dan dia tidak bersekolah di
sekolah yang sama sehingga kami bisa mewakili sekolah masing-masing dan
berjumpa pada ajang yang sama: fisika.
Aku semakin mengenalnya, begitu pula ia. Aku bercerita
padanya tentang segala hal. Tentang hobiku, keluargaku, semuanya. Ia
memandangku penuh arti saat aku bercerita tentang Ren yang meninggal tiga tahun
lalu. Ia begitu baik. Kini, bayangan wajahnya menggantikan rumus-rumus fisika
yang kuwiridkan menjelang tidur. Namun frekuensi belajarku juga semakin rajin
agar aku bisa bersanding dengannya di podium juara, sekalipun piala miliknya
selalu lebih bersar dari milikku.
Pada pertemuan terakhir, aku berujar bahwa aku ingin
mengikuti olimpiade fisika internasional, bersamanya. Ia tertawa pelan
mendengarnya. Suara tawa yang indah, dan aku seperti pernah mendengarnya. Tapi
biarlah. Aku tak peduli. Aku menatap mata indahnya lagi.
Oh, lihatlah. Ia semakin menawan dengan topi hoodie hitam di kepalanya, menutupi
rambut keritingnya yang semakin hari semakin jarang saja. Aku tak heran, rumus
memang bisa membuat tua sebelum waktunya. Namun, rumus jugalah, yang kemudian
melaksa cinta kami berdua.
***
Sebulir embun terjun pelan dari sudut mataku. Tuhan, aku
masih tak memercayai ini. Ini mimpi! Dengar; aku dan dia akan menjadi salah dua
dari kontingen Indonesia di olimpiade fisika internasional bulan depan. Namun,
ah, entahlah. Mataku semakin kabur, napasku memburu, degup jantungku beradu.
Aku hanya mampu tersedu.
Si mata indah itu, kini aku tahu di mana kami berjumpa
di masa lalu. Ia adalah orang yang selalu kutemui saat aku menjemput Ren di
rumah sakit untuk menjalani kemoterapi. Sekarang ia mungkin telah bertemu Ren.
Aku hanya bisa berlutut dan terisak di depan sebuah nisan batu. Si mata indah
itu meninggalkanku. Ia sudah terkubur di depanku, memendam harapan-harapan
indah kami, dulu.
Lina Juhaidah
Kelas XI IPA 3 MA Ali Maksum, Yogyakarta
cerpen Takziran Bu Durroh
TAKZIRAN BU DURROH
“Ruroh...”
“ngelapi
piring tiga puluh,” ujar Ibuk sembari melirikku dari balik kacamatanya.
Aku
bergegas bangkit dan beranjak untuk mengambil piring. Sudah jelas itu tadi
perintah untuk membersihkan piring. Bukan dari makanan, sayangnya. Melainkan
dari debu-debu yang sebenarnya tak
seberapa banyak. Aku tahu perintah tadi bukanlah tanpa alasan, tetapi hukuman.
Ya, kuakui kalau kemarin aku bolos –untuk yang ketiga kalinya- dan Ibuk tidak
pernah marah. Aku hanya disuruh bersih-bersih. Untuk pembolosan pertama, aku didhawuhi
membersihkan jendela. Namun untuk yang kedua dan ketiga, aku dapat jatah
mengelap piring. Benar-benar menyebalkan. Aku merasa seperti babu, padahal
disini statusku, kan, santri!
Sebenarnya
aku bukan tukang bolos. Hanya saja, akhir-akhir ini memang aku merasa
kecapekan. Minggu depan aku ikut turnamen Pagar Nusa untuk pertama kalinya di
aliyah –aku sudah sangat sering ikut waktu tsanawiyah dulu-. Tentu, aku
berlatih hampir setiap hari sepulang sekolah. Aku tak mau sembarangan, karena
memang hanya di bidang inilah aku merasa memiliki jati diri, dan bisa
memperoleh piagam. Aku tahu bahwa Ibuk pasti akan ‘duko’ kalau sampai
tahu aku ikut turnamen. itulah kenapa aku bolos dua hari kemarin. Aku lebih
memilih mengelap piring daripada Ibuk tahu badanku yang waktu itu lebam parah.
Aku tak mau diinterogasi Ibuk dan akhirnya dikeluarkan dari madrasah huffadz
lil banat ini.
***
Bu
Durroh –yang biasa dipanggil ‘Ibuk’ oleh santri-santrinya- menatapaku sekilas
dan mata kami sempat bertemu. Aku merasa melihat senyumnya samar-samar
kemudian. Duh! Aku jadi makin deg-degan saja. Kemarin aku bolos -lagi! Dan itu
berarti untuk yang keempat kali. Otakku terasa berputar-putar menebak apa
‘piket’ku kali ini. Hatiku terus berdoa dengan mulut komat-kamit agar entah
bagaimana, tiba-tiba saja Ibuk lupa kalau kemarin aku tak menampakkan batang
hidungku yang lebar ini.
“Ruroh,”
Ibuku
memanggilku sambil mengedikkan kepalanya. Deg! Namaku dipanggil! Oh, tidak.
Matilah aku setelah ini. Namun ketika aku maju Ibuk diam saja. Aku sedikit
merasa bingung.
“Ayo lhek diwaca tahfidzmu dina iki,”
Waa,
doaku terkabul! Lega benar aku. Aku pun menyetorkan hafalanku dengan tenang.
Tapi juga sedikit was-was barangkali hukumanku diberikan setelah ini. Namun, rupanya aku terlalu
su’udzon. Selesai aku tahfidz, Ibuk tampak tidak hirau. Kemudian beliau
berdiri dan memandang sekeliling ruangan itu.
“Assalamu’alaikum
warohmatullahi wabarokatuh,” Ibuk mengucap salam dan
seketika musholla bercat krem itu menjadi hening. “aku mau cerita tentang
ayahku, Mbah Anwar. Le setor uwis sik.”
“Mbah
Anwar itu orang ‘alim, ‘abid, dan dekat sama Allah. Mbah Anwar itu tidak biasa
untuk menganggur. Beliau selalu menyibukkan diri untuk berdzikir.” Ibuk memberi
jeda sebentar, kemudian melanjutkan.
“Dzikir
ki ora kok mesti ndekem terus
wiridan. Dzikire mbah Anwar itu terus
lewat bibir beliau yang tidak pernah berhenti menyebut asma Allah. Mbah Anwar
itu ingin bermanfaat bagi orang banyak. dzikir itu wajib, tapi khoirunnaasi anfa’uhum lin naasi, jadi beliau selalu
sibuk mengajar, bercengkrama dengan para santri, dan bahkan bersih-bersih.
Seperti menyapu kalau dirasa perlu, mengambil sampah yang tercecer di jalan.”
“Bahkan,
ayahku itu di kamarnya ada banyak piring. Kalau dirasa nganggur, beliau berdzikir
sambil ngelapi piring.”
“Cah,
salah satu tanda cinta itu ittiba’, mengikuti apa-apa yang dilakukan
orang yang dicintai. Nah, kalian ini santri Mbah Anwar. Cinta ndak sama
kyaimu?”
Ditanyai
begitu serentak kami semua membuat koor ‘ya’ dengan kompak.
“Aku
itu niatnya nakzir kalian itu bukan nyari untung, tapi juga biar kalian bisa ittiba’
Mbah Anwar. Ngisik-isik kaca, nyapu,
ngelapi piring, itu semua lak yo
bersih-bersih, to?” tanpa sadar, aku dan teman-teman di sebelahku
mengangguk pelan.
“Lha
ya itu biar kalian punya kegiatan yang sama dengan Mbah Anwar, ittiba’ sama
Mbah Anwar. Nanti kan saya kepinginnya kalian juga bisa jadi ‘alim dan ‘abid
kayak Mbah Anwar. Kalau nggak disuruh, nggak mungkin, kan, kalian
punya inisiatif ngelap piring? Sekalian juga biar kalian itu jera. Maunya saya
kalian ngajinya itu lancar dan hafalannya bagus bisa disemak, makanya kalau
bolos saya beri takziran. Tapi kok ya ada yang ditakzir nggak jera-jera,”
Kemudian
Ibuk melirik ke arahku, dan tersenyum.
***
LINA J. MA’RUF
Santri kelas XI MA Ali Maksum, Ponpes Krapyak, Yogyakarta
Jalan K.H. Ali Maksum PO. Box 1192
Krapyak, Yogyakarta
Indonesia 55011
Krapyak, Yogyakarta
Indonesia 55011
hujan dan daun-daun kering
HUJAN DAN DAUN-DAUN KERING
Daun-daun kering berderit pelan digesek angin
Saling bercakap-cakap mereka
Tentang kisah yang melulu sama,
Lembah hati yang sepi.
Pada angin, daun titipkan salam rindunya
Untuk hujan, yang diam-diam dicintainya
Hujan yang basuh helai-helai bertangkai
Itu dari debu-debu
Sekalian lepas dahaga dari kering kemarau yang kerontang
Daun-daun kemarau tetap menunggu
Pada pertemuan dengan hujan yang menyimpan cinta
Tulus
Pada daun-daun yang merindunya
Daun-daun kering berderit pelan digesek angin
Saling bercakap-cakap mereka
Tentang kisah yang melulu sama,
Lembah hati yang sepi.
Pada angin, daun titipkan salam rindunya
Untuk hujan, yang diam-diam dicintainya
Hujan yang basuh helai-helai bertangkai
Itu dari debu-debu
Sekalian lepas dahaga dari kering kemarau yang kerontang
Daun-daun kemarau tetap menunggu
Pada pertemuan dengan hujan yang menyimpan cinta
Tulus
Pada daun-daun yang merindunya
Selasa, 31 Desember 2013
~
bukan bintang.
aku tak mau teori semesta mengembang
menjauhkanku darimu
tak perlu jadi bintang
aku tak mau kau bersinar terang,
bila akhirnya harus menghilang
bukan bulan
kau bukan tanpa cahaya
atau hanya memantulkan sinar surya
tak perlu pula jadi matahari
aku ingin dekat denganmu
tanpa perlu kau melukaiku
jadilah dirimu sendiri
sesosok terindah yang kucintai
aku tak mau teori semesta mengembang
menjauhkanku darimu
tak perlu jadi bintang
aku tak mau kau bersinar terang,
bila akhirnya harus menghilang
bukan bulan
kau bukan tanpa cahaya
atau hanya memantulkan sinar surya
tak perlu pula jadi matahari
aku ingin dekat denganmu
tanpa perlu kau melukaiku
jadilah dirimu sendiri
sesosok terindah yang kucintai
Langganan:
Postingan (Atom)