Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 April 2024

Obor

OBOR

Untuk Mbah KHM Munawwir


Sosokmu adalah obor, terang dan benderang.
Gairah belajar dan mengajarmu adalah kobar,
semangat yang menyala-nyala.
Auramu hangat, cerminan kitab suci yang sejati.
Pengetahuanmu adalah sinar,
Lantang bersinar menembus kegelapan.
Dengan alunan al-Qur’an yang meresapi relung-relung kemunkaran.

Dari Tanah Keraton hingga Tanah Haram,
Sinarmu tiada meredup.
Malah kau jadikan untuk kami lilin-lilin,
Juga obor-obor
Yang terang bersamamu, kemudian

Ingin kami dapat sepertimu juga,
Sebagai ahli kitab suci.
Sebagai obor dengan cahaya qur’ani yang abadi,
Yang dekat dengan Yang MahaSuci
..

yang telah hilang

Indonesia,

beribu pulau dan aneka budaya memukau
Berlimpah ruah kekayaan alam nan berkilau

Indonesia
Sarat harta terkubur, ragam makhluk tertabur,
terpendam pada bumi pijak yang subur

aku bertanya, kemudian
akan negeriku

Tentang kekayaan alam itu, mana?
Tentang budaya jujur itu, apa?
Tentang pemimpin yang bertanggung jawab itu, siapa?
Tentang musyawarah mufakat itu, bagaimana?

Negeriku, aku tidak tahu
Yang aku tahu negeri – negeri yang ditayangkan di tivi
Rakyat negeriku, aku tidak tahu
Yang ada di majalah adalah orang – orang yang tidak sepertiku
Budayaku, aku tidak tahu
Yang kudengar di radio bukanlah lagu bahasaku

Indonesia, yang aku tahu
Hanya korupsi dan gempa bumi
Aku tak paham dengan negeriku

Karena semua dari negeriku
Kini telah hilang



--ini ngga tauu jaman kapan--

untuk Mbah Rayi

Untuk Mbah Rayi


Mbah, aku rindu...

Sekarang siapa yang akan kucium tangannya pertama kali saat aku tiba di ndalemmu?
Siapa yang mengupas salak dan sesekali mengolaknya untukku?
Siapa yang akan mengajakku tarawih di masjid sembari mengenalkanku pada seluruh jemaat sebagai cucumu?
Siapa yang akan membukakan lemari wangi kapur barus milikmu itu?
Siapa yang akan menceritakan hikayat keluarga dengan fasih kepadaku?
juga, mengurutkan silsilah keluarga?
Mbah, kami rindu...
Siapa yang akan kami sungkemi pertama kali saat syawal tanggal satu?
Kemudian duduk di tengah setiap foto bersama?
Juga menasihati kami tanpa lelah
Tentang betapa pentingnya ngaji, ngaji, dan ngaji
Dan berdoa.
“Mbah, kula ajeng UN. Nyuwun doane, Mbah.” “Ra sah. Kabeh anak putuku wis takdongakke ben dina.”



 BELUM SEMPAT 


Untuk simbah rayi Ma’munatun Asrori binti Cholil

Mbah,
Mauidloh hasanahmu terus kau ulang,tentang kewajiban mengaji.
Tentang keharusan bertata krama,
Tentang kelalaianku berbahasa Jawa krama,
Juga kau tuturkan berbagai macam hikayat yang bermanfaat

Maaf, mbah
aku mengabaikan petuahmu berulang-ulang,
aku lebih bangga bila di kelas jadi juara, daripada mempunyai akhlak mulia
aku sibuk belajar bahasa manca, hingga lupa bahasa Jawa
aku lebih berminat pada cerita di novel, ketimbang kisah penuh hikmah

Maaf, Mbah,
Maafkan aku,
Aku belum sempat minta maaf langsung padamu.

ADAKAH?

 Adakah simfoni seindah dirimu?


Matamu berpendar cahaya,
Hatimu bersesak cinta,
Embus napasmu berpadu doa

Adakah malaikat menjelma pada ragamu?

Kau talikan sepatuku saatku hendak berlari,
Teriakkan namaku saat kuberjuang,
Memelukku tak peduli aku kalah atau menang.

Kau tukar payungku dengan jas hujan,
Padamkan lilinku dengan obor,
Menarikku dari tangga ke eskalator,
Hentikan derit biola dengan alunan surga

Nirwana boleh jadi indah tiada tara
Tapi Tuhan telah hadirkan bidadari terbaiknya
Tuk jagai aku di dunia


KOPI

 

Kopi yang kusesap masih sama, hitam

Namun sebab kopiku yang dulu, kini sudah lebam membiru

 

Kopiku kini, jalan bertahan membuka mata

Membeliak pada angka dan kata bahasa manca

Menggelisah aku ragu, apa aku mampu pahami ini semua?

 

Kopiku dulu, temani hingga malam larut

Lisanku merapal berturut-turut

Terpecut hapalanku yang carut-marut

 

Menelan ludah, terasa lagi pahit kopiku

Tetes mataku mengalir, kalbuku berdesir, aku rindu

Bukan pada kopi, tapi pada diriku di masa lalu

 Cita-cita mulia itu, akan kegali kembali

Rabu, 29 Juni 2022

Untukmu yang Berada di Ambang Ragu

 Untukmu yang Berada di Ambang Ragu


Dalam doa yang tiada henti kau untai

Ada hasrat agar perjalananmu ini cepat usai

Kerap terlintas, jangan-jangan kamu tak akan pernah sampai

Sering juga lalai dan terlalu lama bersantai

Lupa bahwa jika kamu sudah memulai, sesungguhnya tak akan ada kata

'selesai'


Saat langkah mulai tersendat

Beban yang sekarang saja sudah terlalu berat

Hei, itu tanda kamu hebat

Bertahan sampai titik ini adalah bukti kamu kuat

Jangan patah semangat!


Tolong, jangan goyah!

Tak apa jika sesekali merasa lelah

Namun jangan berhenti dan kalah

Teruskan perjuanganmu dalam menjaga kalam-kalam-Nya yang indah

Senin, 18 September 2017

Datang

Dia datang, dan segalanya terasa lebih terang
Aku ingin menuliskan puisi untuknya tapi tak bisa
Aku ingin mencatat cerita tentangnya tapi tak kuasa
Aku ingin melukiskan indahnya tapi hanya jadi asa

Karena saat dia datang, segala yang tersusun dalam otak mendadak hilang






Minggu, 06 Agustus 2017

Yang Dinanti

Waktu bergulir, tak terasa yang dinanti kembali hadir
Syukur terucap, tak cukup jika keberkahan ingin benar dikecap
Saat fajar belum sempurna, kita bangun dan makan bersama
Sebagai bekal perjalanan ‘tuk sehari penuh jalankan puasa
Masjid-masjid ramai berjamaah subuh kemudian
Indahnya beribadah bersamaan, maka langkah terasa semakin ringan
Menjelang sore ibu-ibu membeli bahan masakan di pasar,
anak-anak mencari hidangan kesukaan di bazar
adzan maghrib berkumandang, dan pada wajah-wajah indah lengkung senyum terkembang
rumah-rumah terasa benar kehangatan di dalamnya,
saat seluruh anggota berkumpul dan sejenak lupa hiruk pikuk kantornya
pun pada saat tarawih selepas isya’, kemudian tadarus membaca mushaf dengan saksama
rangkai rutinitas mulia yang tak bakal kita lupa

Pada bulan yang istimewa, aku ingin amal-amalku diterima
Pada bulan yang amat indah, kutata niatku Lillah
Jangan sampai keindahan ini berhenti di bulan ini
Esok hari terus begini bahkan lebih baik lagi

Dan di kemudian hari, terus kunanti jumpa Ramadhan lagi.

Senin, 30 Januari 2017

puisi Cagak Langit

puisi ini pernah dimuat di Majalah Bangkit edisi kapan ya haha lupa -_-


Cagak Langit
Untuk Mbah KH Zainal Abidin Munawwir

Benar kata Mbah Ali,
Bahwa dirimu adalah Cagak Langit, Penyangga Langit
Kala kau pergi, langit menangis lewat pucuk-pucuk gerimis

Kami banyak lupa pesanmu, untuk bersyukur
Para petinggi asyik mereguk uang negeri
Tak sepertimu yang enggan menyentuh gaji

Syukur yang kau contohkan dengan menghargai rizki
Menabung uang barang segobang untuk berhaji
Namun pada uang receh itu kini kami tak lagi sudi
bahkan untuk sekedar peduli

Kami lebih bangga mencari harta, berfoya-foya
Makan berpiring-piring tiada kenyang
sedang kau makan sepiring saja jarang

Mbah,
Belum lama engkau pergi menghadap-Nya
Kiranya langit sudah mulai goyah
Bumi dan seisinya menampakkan tanda dan amarah

Memperingatkan kami akan kemunculan As-Sa’ah

NARKOBA

Narkoba,
Kenapa tak diperbolehkan?
Karena mempercepat denyut jantung?
Karena efeknya yang dapat menghilangkan kesadaran?
Memicu halusinasi?
Karena dapat mematikan perlahan?
Atau apa?
Jika yang tadi kusebutkan itu benar,
Maka apakah hal yang sama juga dilarang?
Seperti, ehm, mencintaimu?

Lina Juhaidah
XI IPA 3
MA Ali Maksum pondok pesantren krapyak Yogyakarta
085602041475

Sabtu, 25 Juni 2016

hai

hai.
sosokmu nampak dari kejauhan
gagah pongah di atas awan
orang biasa sepertiku,
sudah sepantasnya tak terlihat olehmu

karena aku masih di pojok terpencil bumi
sambil mengira-ira
cara untuk terbang

aku juga ingin suatu kapan nanti menyusulmu, kawan

tahun

setahun lalu, masih tersimpan dalam memoriku
setahun lalu, ada riak bahagia yang muncul bersama ingatan itu
setahun lalu,
ada apa setahun lalu?
entah
itu mungkin cuma sekadar ini dan itu yang sudah berlalu

tahun lalu, tahun ini, tahun besok, tahun kapan
semua berbeda, membawa ragam cerita yang tak sama
nikmati saja
belum tentu ada tahun berikutnya

Minggu, 05 Juli 2015

celah

riak air
debur ombak
buih putih

terik matahari, angin kencang
panas kering, hembus dingin
air datar, gulungan ombak
menjumpa bibir pantai, pecah, dan tenang kembali

awan tipis menggantung lazuardi biru
bulat surya mengawasi mereka dari jauh

secercah cahaya menerobos lubang jendela
menyilaukan hati yang dirundung duka
laut,
luka ini, bawa pergi saja~

Depok Beach, 230515

Untukmu II

aku hanya manusia biasa (yang mungkin diragukan kemanusiaannya)
bukan anak kyai, anak rektor, anak guru, apalagi anak dinosaurus
tidak cantik, tidak manis, tidak tinggi
tak jenius, tak rajin, tak pandai
bahkan mencuri sedikit perhatianmu pun ku tak mampu

Krapyak, 240515

Untukmu I



Padamu, kutemukan ruhku
Ruh merangkai deret-deret huruf , yang menggebu
Kepadamu, hari-hariku yang dulu kelabu
Kau ubah jadi merah, jingga, dan biru
Iya, biru
Kisah merahku lagi-lagi berujung biru
Bertemu tak berarti mampu bersatu~

Krapyak, 010615

Kamis, 25 Desember 2014

hujan dan daun-daun kering

HUJAN DAN DAUN-DAUN KERING 

Daun-daun kering berderit pelan digesek angin
Saling bercakap-cakap mereka
Tentang kisah yang melulu sama,
Lembah hati yang sepi.

Pada angin, daun titipkan salam rindunya
Untuk hujan, yang diam-diam dicintainya
Hujan yang basuh helai-helai bertangkai
Itu dari debu-debu
Sekalian lepas dahaga dari kering kemarau yang kerontang

Daun-daun kemarau tetap menunggu
Pada pertemuan dengan hujan yang menyimpan cinta
Tulus
Pada daun-daun yang merindunya

Selasa, 31 Desember 2013

Night Sky

One

the stars light brightly
but no one of them could be so bright
as bright as you,
for me


Two

when i stare at the moon,
that moon seems like it burns
like a sun

yea, it only reflects the sunshine

if i don't have any light
may i reflect yours?

big

so big
you can't imagine how big it is
yes, you can't

but i expect, sometimes
that someday somehow i don't know
you can imagine it,
see it,
feel it,
believe it,
i hope

even though you haven't know yet how big it is
and as big as you don't know how big it is,
than you know how much
my feeling into you

Hujan dan Kenangan

terlalu tua, terlalu usang, terlalu lama
anggap saja 'tlah tiada

tapi hujan
basah dan membasahi yang berdebu
memerciki apa yang seharusnya tak perlu

Saat hujan dan penantian
pada teh hangat kemanisan,
pada uap renyah gorengan,
pada senyum di kala adzan,
hingga sholat jama'ah, dan doa-doa minta ijabah

pada tawa menerjang hujan
baju basah dan dingin

namun beranjak hangat
pada penantian soto, kemudian
atau mie ayam

sembari menonton teve,
berbagi cerita

Hujan dan kenangan,
apa kau juga mengenangnya?

Krapyak, 211113
pagi ini, di sekolah
teringat hujan maghrib kemarin :)

tak ingin

tiada usai sosokmu berkelebat
entah dalam bayang atau apa,
tapi bukan ilusi

ramuan rindu yang mendidih, membuncah,
memuaikan kandilnya,
hati
meluber melepuhkan, pasti
tak lama lagi.

dimana kenopnya?

ingin kumatikan saja apinya, biar melunak
biar selesai
aku tak ingin luka lagi

yang kemarin saja belum sembuh