Minggu, 06 Agustus 2017

CERDAS BERINTEGRITAS PENGETAHUAN TAK HANYA BERPUTAR DI OTAK SAJA, MELAINKAN TERTANAM DALAM JIWA

Menjadi seorang mahasiswa di zaman sekarang bukanlah sebuah prestis sebagaimana yang dialami oleh bapak ibu kita dulu pada zamannya. Jumlah mahasiswa atau penduduk yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi yang kian bertambah setiap tahun memang merupakan bukti bahwa kesadaran bangsa akan pentingnya pendidikan semakin meningkat. Sayangnya, kesadaran tersebut lebih didasari oleh formalitas semata. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya jumlah lulusan perguruan tinggi yang menganggur atau tidak bekerja. Pemikiran ‘dimana saya bekerja setelah lulus?’ lebih mendominasi daripada ‘apa yang harus saya lakukan setelah mendapatkan ilmu?’.
Kita memahami bahwa pemuda adalah aset terpenting dalam suatu negara. Pemuda adalah tonggak pergerakan. Maju dan mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh generasi mudanya. Berbagai perubahan dapat terjadi dikarenakan dobrakan pemuda. Untuk mencapai perubahan yang lebih baik diperlukan pemuda pemuda yang memiliki kualitas intelektual dan bermoral. 
Ketika membahas mengenai pemuda, kita tak bisa lepas dari kata mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya tergambar dalam benak sebagai pemuda yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, namun memiliki daya juang dan semangat perubahan. Semangat inilah yang dimiliki oleh sebagian besar mahasiswa, menghidupi suatu organisasi debagai sarana mewujudkan fungsi mahasiswa sebagai agent of changes, social control, dan iron stock.
Sedangkan, sebagian besar pola pembelajaran mahasiswa hanya terpaku saat kelas sedang berlangsung. Padahal, membaca, mengerti, dan menghafal saja tidaklah cukup. Ilmu pengetahuan harus dikelola secara produktif untuk mengahsilkan inovasi-inovasi dalam berbagai bidang yang dapat membantu memajukan bangsa, Negara, dan peradaban dunia pada umumnya. Kemudian, yang perlu ditekankan adalah hasil keluaran yang konkret akan adanya ilmu pengetahuan pada diri manusia adalah karakter yang unggul.
Selama ini sebagian besar dari kita masyarakat Indonesia berlomba-lomba untuk mendapatkan produk-produk keluaran terbaru, tanpa pernah berpikir untuk menciptakan keterbaruan itu. Banyaknya kasus para pemimpin bangsa yang terperangkap korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah bukti bahwa titel pendidikan yang tinggi bukanlah jaminan karakter yang unggul.
Karakter-karakter unggul melingkupi kejujuran, kedisiplinan, akuntabel. Tinggi dalam intelektualitas yang tidak dibersamai dengan keunggulan karakter adalah ancaman yang berat yang dapat menjerumuskan bangsa Indonesia menuju kehancuran, karena mereka menggunakan ilmu dan pengetahuan yang ia miliki bukan untuk mencerdaskan orang-orang di sekitarnya, namun sebaliknya.
Dalam kurikulum wajib pendidikan sejak Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi, tidak banyak diberikan materi mengenai karakter. Pendidikan karakter hanya bisa kita dapat melalui mata pelajaran pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan. Pun materi saya rasa hanya berhenti di hafalan saja tanpa ada implementasi yang riil.
Maka dari itu, pengetahuan tidak seharusnya dipelajari secara teoritis semata, melainkan implementatif dan produktif. Apabila pengetahuan terus menerus diterapkan dan dikembangkan melalui inovasi-inovasi dalam diri pelajar, maka peningkatan karakter-karakter unggul bukanlah sebuah keniscayaan. Namun, diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk dapat terus mengawasi dan mengarahkan agar setiap inovasi yang dikembangkan memiliki arah dan tujuan yang jelas, serta dilakukan dengan cara yang baik.
Dengan adanya dukungan dari pihak pemerintah bekerja sama dengan semua instansi pendidikan untuk menyelesaikan problematika ini. Salah satu cara adalah dengan mengurangi beban pendidikan dalam kelas. Lebih memperbanyak waktu untuk belajar di luar kelas, bereksperiman dan menerapkan apa yang telah dipelajari dalam kelas akan mengambangkan rasa ingin tahu, serta nilai-nilai social seperti kejujuran, kepekaan, dan berbagai karakter-karakter unggul lainnya. Kita harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berputar di otak, melainkan tertanam pada jiwa setiap individu, sehingga pengetahuan tidak akan menjadi boomerang yang dapat mencelakai pemiliknya serta orang-orang di sekitarnya. Kita tidak cukup hanya menjadi cerdas tanpa moralitas. Kita harus menjadi orang yang cerdas dan berkualitas dengan integritas.

REFERENSI:
Sofyan, Herminarto. Implementasi Pendidikan Karakter melalui Kegiatan Kemahasiswaan

Baswedan, Anis R. 2014. Gawat Darurat Pendidikan di Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar