puisi ini pernah dimuat di Majalah Bangkit edisi kapan ya haha lupa -_-
Cagak Langit
Untuk Mbah KH Zainal Abidin Munawwir
Benar kata
Mbah Ali,
Bahwa dirimu
adalah Cagak Langit, Penyangga Langit
Kala kau pergi,
langit menangis lewat pucuk-pucuk gerimis
Kami banyak
lupa pesanmu, untuk bersyukur
Para
petinggi asyik mereguk uang negeri
Tak
sepertimu yang enggan menyentuh gaji
Syukur yang
kau contohkan dengan menghargai rizki
Menabung
uang barang segobang untuk berhaji
Namun pada
uang receh itu kini kami tak lagi sudi
bahkan untuk
sekedar peduli
Kami lebih
bangga mencari harta, berfoya-foya
Makan
berpiring-piring tiada kenyang
sedang kau
makan sepiring saja jarang
Mbah,
Belum lama
engkau pergi menghadap-Nya
Kiranya
langit sudah mulai goyah
Bumi dan
seisinya menampakkan tanda dan amarah
Memperingatkan
kami akan kemunculan As-Sa’ah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar