Senin, 30 Januari 2017

puisi Cagak Langit

puisi ini pernah dimuat di Majalah Bangkit edisi kapan ya haha lupa -_-


Cagak Langit
Untuk Mbah KH Zainal Abidin Munawwir

Benar kata Mbah Ali,
Bahwa dirimu adalah Cagak Langit, Penyangga Langit
Kala kau pergi, langit menangis lewat pucuk-pucuk gerimis

Kami banyak lupa pesanmu, untuk bersyukur
Para petinggi asyik mereguk uang negeri
Tak sepertimu yang enggan menyentuh gaji

Syukur yang kau contohkan dengan menghargai rizki
Menabung uang barang segobang untuk berhaji
Namun pada uang receh itu kini kami tak lagi sudi
bahkan untuk sekedar peduli

Kami lebih bangga mencari harta, berfoya-foya
Makan berpiring-piring tiada kenyang
sedang kau makan sepiring saja jarang

Mbah,
Belum lama engkau pergi menghadap-Nya
Kiranya langit sudah mulai goyah
Bumi dan seisinya menampakkan tanda dan amarah

Memperingatkan kami akan kemunculan As-Sa’ah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar