170215. Kdj202.
DI BALIK JENDELA
“Astaghfirullah,”
Cepat-cepat kualihkan pandanganku sambil mengurut dada. Maksiat,
pikirku. Jantungku masih berderap cepat dan mataku terpejam rapat. Namun tetap
saja. Meski dalam mata tertutup seperti itu, bayangan sosok bersorban tadi
masih jelas terpampang di otakku. Kuhela napas panjang, kubuka lagi kelopak
mataku. Segera kufokuskan kembali pikiranku pada lemabaran mushaf yang ada di
depanku
***
Aku sedang membaca buku geografiku dengan segan ketika
tiba-tiba Ulfah duduk di sebelahku dan sebungkus cokelat kesukaanku secara
ajaib telah berbaring di pangkuanku. Aku menatap Ulfah tak berkedip. “Itu
syukuran aku menang speech kemarin,” katanya sambil tersenyum. Aku ikut
sumringah. “Makasih, Ul,” seruku. Aku melanjutkan membaca buku geografi
ditemani Ulfah yang berceloteh tentang seorang artis, lalu seorang Gus Kafa
(putera kyaiku yang nyantri di Jombang) yang dijodohkan dengan ning siapa, dan
entah apa lagi aku tak paham.
‘Kriiing...’
Bel berbunyi. Istirahat telah usai. Pelajaran geografi akan
segera dimulai. Tubuhku langsung lunglai. Hari ini ulangan dan aku belajarku
tadi hanya sebentar. Itupun diiringi dengan nyanyian Ulfah. Ah...
***
Aku ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Aku
mencatat setiap ayat Quran dan hadist yang diselipkan bapak atau ibu guru dalam
pelajarannya (karena dilakukan di pesantren, kegiatan ini berubah menjadi
mencatat setiap perkataan guru) dan, yang lebih susah lagi, mencoba menjalankan
isi ayat dan hadist tersebut. Aku ingin mejadi anak alim. Tetapi sejak bertemu
dengannya, imanku mulai goyah.
Aku masih ingat pertemuan dengannya pertama kali; saat
mangantri di kasir supermarket depan pondok. Aku berdiri di belakangnya, dekat,
dekat sekali. Aku iseng membaca bubuhan spidol di ujung belakang surbannya; F A
B I. Unik, ya? Aku tak melihat wajahnya sampai dia keluar dari supermarket.
Kami hanya sempat bersitatap sebentar karena lelaki itu cepat-cepat membuang
muka. Dan sungguh, itu pertama kali aku merasa terpana.
***
Huf , susah benar berada di antara orang yang sedang ghibah.
Mau ikutan, dosa. Mau menghindar pergi, eh, malah hasrat hati ingin
mendengarkann. Kelasku sedang jam kosong dan kelasku sudah sebelas dua belas
bisingnya dengan pasar. Iseng aku mendekat ke jendela. Dan aku melihatnya.
Berpeci putih, koko putih, surban putih, sarung kotak-kotak
cokelat. Aku bingung harus berucap subhanallah atau astaghfirullah (atau, ehm,
alhamdulillah?) begitu melihatnya. Mukanya bersih memancarkan aura yang
menyenangkan dan berwibawa. Langkahnya tegap namun tetap agak menunduk. Mukanya
datar tapi sorot mata teduhnya nampak sangat jelas. Aku menarik kepalaku dari
jendela. Aku ingin menjaga pandangan seperti sosok lelaki itu. Aku memaksa
kakiku untuk melangkah menjauh dan duduk di bangkuku. Lebih baik belajar untuk
ulangan ekonomi besok.
Ah, aku frustasi berat. Aku curiga ada yang menempelkan
foto Fabi (aku capek memanggilnya ‘Lelaki Bersorban’) di segala tempat. Aku
baru berapa kali jumpa dirinya tapi wajahnya seakan ada dimana-mana. Atau
jangan-jangan, reseptor otakku menerjemahkan segala impuls yang masuk menjadi
dirinya? Aduh, melankolis benar aku ini. Hm, aku yakin dia bukan santri putra
sini. Tidak, dia baru saja berjalan di gedung madrasah putri pada jam sekolah.
Apa dia guru baru? Atau karyawan baru? Atau malah tukang kebun baru? Ah, makin
lama makin kacau aku.
“Lihat, ada Gus Kafa!”, seru Fida keras. Sontak saja, semua
anak kelasku medekat ke jendela kecuali aku. Aku bingung. “Lin, sini nggak
papa. Gus Kafa sudah dijodohin sama ning, kok,” kata Sofa padaku. “Mumpung lagi
di Jogja, lo, Lin. Baru pulang dari Jombang, paling-paling habis ini boyong
lagi ke Jombang,” tambah Virda. Aku mulai goyah. Aku mengintip Gus Kafa yang
belum pernah aku lihat sebelumnya.
Dan sosok di balik jendela itu masih sama.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar