RAHASIA USY
“Yang benar kau tidak ikut studi wisata?” tanyaku sekali lagi. Ia hanya mengangguk lemah. Aku sudah lelah mengatakan padanya betapa anak kelas mengharapkan ia ikut, namun sampai sekarang ia masih saja keras kepala. “Lihat, ini hasil urunan anak sekelas buat kamu. Segini ini sudah cukup untuk bayar dan uang jajanmu studi wisata. Sekarang, kamu masih mau menolak untuk ikut?”
Ia menatapku sambil menggigit bibir bawahnya. Aku hampir ingin tertawa demi melihat ekspresi wajahnya yang mendadak aneh itu. Ia memalingkan mukanya kemudian terlihat berpikir keras.
“Aku tetap tidak bisa. Maafkan aku.”
Kami berteman baik sejak kecil. Tak kusangka ia bisa berkata begitu kemudian berlalu meninggalkanku dengan kepala tertunduk dalam.
***
“Ah, kurasa dia memang terlalu banyak berubah semester ini. Jadi lebih pendiam, gak mau ikut lomba debat, diajak main juga ga pernah berangkat. Tapi memang tidak ikut studi wisata itu termasuk kategori keterlaluan,” komentar Tohari saat aku menceritakan usahaku membujuk Usy kemarin.
Mataku menangkap Usy yang sedang bercanda dengan siswi-siswi lainnya. Tak nampak berbeda, tetap Usy yang blak-blakan, ketawa keras, dan ekspresif. Nilai raportnya memang standar, tapi kepercayaan dirinya tak punya tandingan. Karena aku dan semua anak di kelas XI MiA 3 telas sekelas dengannya selama satu tahun, tentu kami telah saling mengenal sifat satu sama lain. Apalagi Nur Firdausy. Usy sering tidur di kelas dan mengupil saat ada guru. Pakaiannya tidak pernah disetrika kecuali mau lomba. Usy sangat aneh. Ah, bukan aneh, tapi, apa ya. Ah, ya. Semacam eksentrik. Nah, begitulah Usy. Tentu saja kami langsung kaget begitu Usy menyatakan ia tak ikut studi wisata. Siapa yang akan jadi biang onar nanti?
“Pak Ketua, jangan suka melamun nanti kerasukan!” Usy berteriak kencang mengagetkanku (dan anak-anak lain jelas). Kemudian ia tertawa, tanpa beban. Melihat sosoknya yang berbanding terbalik dengan yang aku temui kemarin, aku sedikit merasa risih. Akan kuhampiri lagi ia siang nanti. Sebelum kami bimbingan olimpiade. Usy, temanku itu harus ikut. Semua anak kelasku harus ikut. Harus!
***
“Us,”
“Eh, Pak Ket. Ada apa?” ujarnya ceria sambil menata buku biologi dari tas ke pangkuannya. “Jujur, deh. Kamu ada apa, sih? Kamu tak mau ikut studi wisata dan jarang mau ikut lomba. Kenapa?” kutanyai begitu ia menunduk. Ada rona yang secara tiba-tiba meredup dari wajahnya.
“ibuku sakit, Wildan. Ayahku kerja di Malaysia. Aku tak puny adik maupun kakak, atau pembantu. Kami hanya hidup berdua di rumah. Aku tak akan meninggalkannya hanya untuk studi wisata.” Usy menundukkan kepalanya. “Jadi tolong jangan paksa aku terus-menerus,” lanjutnya.
“Kenapa kau tak pernah cerita padaku, Us? Kalau tahu begini aku tak akan memaksamu.” Kataku dengan perasaan jengkel dan sedikit menyesal. Usy mendongakkan kepalanya ke arahku. Kedua bola matanya menatapku dengan sendu.
“Kupikir yang terbaik begitu...” Usy berkata pelan. Ia kembali melanjutkan,
“karena kau pun tak pernah bercerita padaku saat ibumu meninggal tahun lalu.”
***
LINA JUHAIDAH
KELAS XI IPA 3
MA ALI MAKSUM, KRAPYAK
Jalan K.H. Ali Maksum PO. Box 1192
Krapyak, Yogyakarta
Indonesia 55011
Krapyak, Yogyakarta
Indonesia 55011
(Dimuat di Rubrik Kaca Harian Kedaulatan Rakyat di hari Jumat, 27 November 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar