Senin, 30 Januari 2017

KOIN

KOIN

Sial, gumamku dalam hati. Pagi-pagi buta begini, sepulang membeli wortel di Pasar Pagi, dia sudah ngangkring dengan kaki di atas kursi serta rokok di sela jari. Aku meliriknya sekilas. Dia balas menatapku, ganas.
***
Reza –seperti biasa- sudah duduk manis di kelas saat sesaentaro sekolah hanya berisi satu nyawa -Pak Gito, sang penjaga sekolah. Aku sengaja berangkat pagi karena hari ini jadwalku piket, namun sepertinya aku berangkat terlalu pagi. Reza yang masih sendiri di kelas adalah buktinya. Aku mengambil sapu dengan malas.
***
“Lin, kamu sudah paham?”, Reza bertanya dengan sungguh-sungguh padaku. Aku terpaksa  mengangguk pelan. Bagaimana lagi, Reza sudah menerangkan teori fisika kuantum selama hampir satu jam dan bulir peluh besar-besar tampak jelas di pelipisnya. Mana mungkin aku harus jujur kalau sebenarnya aku masih tidak paham? Ah, aku harus begadang lagi nanti malam, supaya besok saat ditanya aku bisa walau sekedar menjawab apa adanya.

Kuperhatikan Reza yang sedang menyeka peluhnya kemudian tersenyum ramah padaku. Reza, manusia sempurna, baik wataknya, master fisika, murid yang selalu dipuja-puja, idola para wanita. Aku hampir saja dilabrak kelompok-pemuja-Reza gara-gara dianggap dekat dengannya. Aku acuh saja. Toh, bukan mauku bisa terkurung dengannya berjam-jam hanya untuk mendengarkan ceramah fisika yang membuat sel-sel saraf di otakku malas bekerja.

“Taro mana? Tidak berangkat lagi?,” tanyanya dengan tatapan tajam. Aku mengangkat bahuku. “Sepertinya”. Selanjutnya, bisa kutebak, Reza akan mendengus sebal dan memalingkan muka. Aku tahu, sekalipun ia tak pernah mengatakannya pada aku maupun siapapun, Reza tak suka pada Taro. Kukira semua orang pasti tahu itu –atau semua orang pasti membenci Taro, entahlah.

Mungkin sebaiknya Reza tak tahu, aku baru saja membaca status Taro terbaru, “hang out”. Maka bisa kupastikan bahwa sekarang ia berada di sebuah mall atau planet lain -aku tak tahu, dengan rokok di sela jari –yang ini sudah pasti.

“Tiga hari ke depan aku ada kegiatan. Maka, kamu belajar sendiri, ya,” Reza berkata dengan nada serius. Aku mengangguk dengan pandangan masih tetap mengarah pada buku fisika tebal di pangkuanku. Siapa peduli dengan kegiatan Reza yang membuatnya jarang menampakkan batang hidungnya di sekolah?

“Jangan tiru Taro, kalau kamu benar-benar mau berhasil di lombamu besok,” tambahnya berapi-api. Anggukanku baru setengah jalan sampai Reza meneriakiku, ”Jangan cuma mengangguk, dengarkan!”
“Iya, Za,” jawabku malas sambil memalingkan muka.

Sepertinya, hanya aku yang benci setengah mati pada fisikawan yang satu ini. Andai saja kelas sepuluh kemarin ia tidak dapat medali emas OSN Fisika, pasti tahun ini aku dan Taro tak perlu susah-susah mengikuti pembimbingan fisika super eksklusif dengannya setiap hari. Reza menerima pendaulatan dirinya menjadi trainer fisika dengan suka cita, sedangkan aku dan Taro jelas menerimanya sebagai bencana.
***
“Kemarin Reza ngomongin apa aja?” tanyanya dengan muka acuh. Aku tertawa pelan. “Hahaha, entahlah. Aku hanya memperhatikan biji-biji keringat yang tumbuh di dahinya”. “Sekarang latihan soal aja, yuk. Nanti kita bahas bareng,” ajaknya. Aku tersenyum mengiyakan. Mendadak semangatku belajar fisika membludak sampai luber-luber. Kubuka map hijauku yang berisi lembar-lembar soal.

Kalau sebelumnya aku menduga bahwa cuma diriku yang tidak menyukai Reza, maka sekarang aku menyatakan bahwa sepertinya hanya aku yang mengetahui sisi baik Taro –selain bahwa dia pintar fisika. Hanya Taro yang bisa menjelaskan rumus fisika terumit dengan penjelasan yang bahkan bisa membuat anak TK paham bila Taro yang menjelaskan. Reza yang jenius tak akan bisa melakukannya. Tak banyak yang tahu memang. Lagipula, memang tidak ada yang mau tahu tentang hal itu. Orang lain merasa cukup mengerti Taro sebagai anak nakal, tukang bolos, kelayapan, dan tak pernah jauh dari tembakau olahan yang disebut rokok.
Awalnya, Pak Rofiqi dengan yakin memilihku untuk maju olimpiade fisika tahun ini. Namun, karena peraturan ternyata membolehkan sekolah untuk mengirim lebih dari satu orang untuk satu mata pelajaran, maka nama Taro pun keluar, dengan tanpa kerelaan hati para guru. Tidak juga ada seorangpun yang bisa berpikir menggunakan logika mengapa Taro yang demikian itu bisa cemerlang dalam fisika.

“Ro, kenapa tahun kemarin bukan kau yang ikut lomba ini?” tanyaku tanpa sadar. Aku juga tak paham kenapa kalimat itu menerjang mulutku begitu saja. Taro malah terpingkal-pingkal mendengarnya membuatku semakin tak paham.

“Aduh, Lin. Kamu bertanya apa mengejekku?” Taro balik bertanya dengan senyum memperlihatkan gusinya yang merah muda. Aku segera menunduk. Aku tidak kuat melihat senyumnya, nanti bisa-bisa imanku runtuh seketika.

“Mau dikata nilaiku selalu sama persis dengannya pun, anak nakal macam aku mana pantas terpilih?” tanyanya dengan mata berbinar –aneh, ya?

“Sampai detik ini pun, aku tak pernah percaya berada di sini, disuruh berlatih untuk olimpiade fisika. Apa-apaan, coba?” Taro melanjutkan ucapannya dengan tertawa renyah. Mau tak mau aku pun terbawa untuk ikut tertawa bersamanya.

Taro terlihat baik, mengapa ia harus nakal?, aku membatin dalam hati.
“Dulu aku anak baik-baik,” Taro berujar pelan, seakan mendengar apa yang terlintas di benakku. “serius, lho, Lin” tambahnya mencoba meyakinkanku. “Reza sudah rajin sejak kecil. Tapi seringkali peringkatku lebih tinggi darinya. Dia marah dan menjauhiku, hahaha”.

Aku terkesiap mendengarnya. Apa ini? Cerita kelam Reza?

“Aku jadi sebal sendiri, maka kuputuskan untuk membuatnya senang. Awalnya aku cuma jadi pemalas, lama kelamaan jadi bad boy gini, haha,” cerocosnya. Aku melongo, tidak percaya. Entahlah, tapi rasanya aneh saja membayangkan Taro dan Reza berteman.

Aku memandangi Taro yang sedang memperhatikan lembar-lembar soal fisika sambil tersenyum. Sebenarnya, dulu aku sebal padanya. Namun entah sejak kapan aku mulai menaruh hati padanya, dan aku membenci perasaanku itu.

“Everybody has a dark side, Lin. Tukang bolos begini sebenarnya aku anak baik. Orang terlihat ramah macam Reza pun punya kekurangan, tapi jangan dipermasalahkan. Setiap yang punya sisi kanan pasti punya sisi kiri, kutub utara bisa disebut utara karena ada selatan, ada lambang garuda di balik sisi angka, dan sebagainya.”

Aku tertegun. Kini aku sedang melihat sisi koin yang lain, yang berbeda dari yang selama ini aku lihat.
***
Lina Juhaidah
MA Ali Maksum Krapyak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar